Media Kampung – Ketegangan di Selat Hormuz terus berlangsung dengan Iran mempertahankan penutupan jalur tersebut dan mengancam akan menyita aset negara-negara Arab, Bulgaria, dan Siprus sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga menyerukan persatuan negara-negara Teluk untuk menghadapi musuh bersama dan menolak pembagian di kalangan umat Muslim yang dianggap menguntungkan pihak lawan.

Menurut sumber keamanan di Tehran, klaim Amerika Serikat bahwa lalu lintas minyak melalui jalur selatan Selat Hormuz berjalan normal adalah tidak benar dan bagian dari kampanye psikologis untuk mempengaruhi harga energi global. Sumber tersebut menegaskan bahwa upaya Iran untuk menutup selat masih berlangsung, dengan serangan terhadap kapal yang dianggap melanggar aturan Iran dan kapal tanker yang mengubah arah setelah mendapat peringatan.

Baca juga:

Iran dan Oman telah mencapai kesepahaman terkait koridor pengiriman sementara di Selat Hormuz, namun implementasinya masih tergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat berdasarkan nota kesepahaman yang telah berakhir. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup dan setiap kapal yang melewati harus berkoordinasi dengan Iran.

Seruan Mojtaba Khamenei disampaikan dalam rangka Pekan Persatuan Islam, yang mengingatkan pentingnya solidaritas umat Muslim, terutama di kawasan Teluk, untuk menghadapi ‘musuh nyata’. Ia juga menyoroti bahwa perpecahan antar umat Islam justru menguntungkan musuh bersama, serta menyinggung kondisi Palestina yang dianggap tak akan seputus asa jika umat Muslim bersatu.

Baca juga:

Sejak serangan udara Amerika Serikat dan Israel enam bulan lalu yang menewaskan pendahulu Mojtaba, Ayatollah Ali Khamenei, serta tokoh-tokoh penting lainnya, situasi di Iran dan kawasan sekitar semakin tegang. Pemerintah Iran tetap bertahan dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi perang tanpa melepaskan prinsip ideologisnya. Kehidupan masyarakat Iran sehari-hari mengalami tekanan berat, sementara berbagai upaya diplomasi terus dilakukan oleh negara-negara seperti Qatar dan Pakistan untuk meredakan ketegangan.

Ketegangan juga berakar pada perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Iran, antara kelompok yang mendukung penyelesaian diplomatik dan yang ingin melanjutkan perlawanan hingga Amerika Serikat mundur. Namun, semua pihak sepakat tidak akan menyerah pada tekanan Washington dan sekutunya.

Baca juga:

Dalam konteks keamanan regional, peringatan dan ancaman Iran terkait penyitaan aset negara-negara yang dianggap mendukung serangan AS menunjukkan eskalasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas kawasan dan pasar energi dunia. Selat Hormuz tetap menjadi titik kunci yang strategis bagi pengiriman minyak global, sehingga situasi di sana menjadi perhatian internasional.