Media Kampung – PT Swayasa Prakarsa Tbk, perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset yang memiliki afiliasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), bersiap melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan menargetkan penggalangan dana hingga Rp 45,22 miliar dari penawaran sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru.
Rencana IPO dan Penawaran Saham
Swayasa Prakarsa menawarkan saham dalam rentang harga Rp 130 hingga Rp 140 per saham. Dengan jumlah saham yang ditawarkan maksimal 323 juta saham, nilai IPO yang dapat dihimpun mencapai Rp 45,22 miliar. Perseroan telah mendapatkan persetujuan prinsip pencatatan efek dari BEI melalui surat tertanggal 13 Agustus 2026. Jika seluruh saham ditawarkan dan tercatat, total saham yang tercatat di BEI akan mencapai 1,066 miliar lembar saham.
Masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung pada 24-27 Agustus 2026, dengan tanggal efektif pada 31 Agustus 2026. Penawaran umum perdana saham dijadwalkan berlangsung pada 2-8 September 2026, diikuti dengan penjatahan pada 8 September, distribusi saham pada 9 September, dan pencatatan saham pada 10 September 2026.
Kepemilikan Saham dan Keterkaitan dengan UGM
Struktur kepemilikan menunjukkan keterkaitan kuat Swayasa Prakarsa dengan UGM. Sebelum IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri memegang 97,16 persen saham, sementara UGM memiliki 2,693 persen saham secara langsung. Setelah IPO, kepemilikan PT Gama Multi Usaha Mandiri akan terdilusi menjadi 67,72 persen, dan kepemilikan langsung UGM menjadi 1,88 persen. Masyarakat umum akan memiliki 30,30 persen saham hasil penawaran umum.
UGM tetap mempertahankan kendali atas perusahaan setelah IPO. Dalam surat pernyataan pengendali, UGM yang diwakili oleh Rektor Prof. dr. Ova Emilia menyatakan tidak akan melepaskan pengendalian selama 12 bulan setelah efektifnya IPO.
Sejarah dan Pengembangan Usaha
Swayasa Prakarsa didirikan pada 12 Januari 2012 sebagai wadah komersialisasi hasil riset UGM di bidang produk kesehatan. Perusahaan mengembangkan berbagai unit usaha seperti Gama Herbal Indonesia, Heprogama, Gamafood, dan unit distribusi IMEDEV. Produk pertamanya, Gama-CHA, diluncurkan pada Agustus 2014.
Penggunaan Dana IPO
Hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk pengembangan bisnis. Sekitar Rp 15,8 miliar dialokasikan sebagai modal kerja untuk peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk. Sedangkan Rp 12,2 miliar akan digunakan untuk belanja modal.
Pengembangan produk fokus pada produk kesehatan berbasis riset, termasuk produk External Ventricular Drain (EVD) dan ventilator neonatal. Dana modal kerja akan digunakan untuk pembelian mould injection, bahan baku, produksi, sterilisasi, pengujian, serta penyusunan dokumen perizinan dan sertifikasi produk.















Tinggalkan Balasan