Media Kampung – Presiden Prabowo Subianto menerima laporan kemajuan program mandatori Biodiesel B50 dari Direktur Utama PT Pertamina Simon A. Mantiri dalam pertemuan di Hambalang, Jawa Barat pada Minggu (9/8/2026) sore. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga menegaskan pentingnya efisiensi dengan mengurangi lapisan anak dan cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya.

Percepatan Implementasi Biodiesel B50

Program mandatori Biodiesel B50 yang resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada Juli 2026 merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Program ini bertujuan meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati hingga 50 persen dalam campuran solar. Dimulai dari B2,5 pada 2008, program biodiesel nasional telah meningkat secara bertahap hingga mencapai target B50 saat ini.

Baca juga:

Pelaksanaan setiap tahapan didukung oleh regulasi yang ketat, peningkatan kapasitas industri, standar mutu yang disempurnakan, pembangunan infrastruktur distribusi, serta pengembangan sumber daya manusia yang memadai. Hal ini bertujuan memastikan program berjalan optimal dan memberikan manfaat maksimal.

Restrukturisasi BUMN untuk Meningkatkan Efisiensi

Selain membahas program biodiesel, Presiden Prabowo memerintahkan perampingan struktur bisnis BUMN dengan mengurangi lapisan anak dan cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, dan menjaga efisiensi operasional BUMN.

Perampingan ini menjadi bagian dari upaya reformasi BUMN yang lebih luas, mendukung visi pemerintah untuk menghadirkan perusahaan pelat merah yang lebih responsif dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.

Baca juga:

Konteks dan Dampak Strategis

Presiden Prabowo menegaskan bahwa pengelolaan kekayaan alam Indonesia harus dilakukan secara dalam negeri agar memberikan nilai tambah bagi bangsa. Penguasaan teknologi dan pembangunan industri dalam negeri menjadi kunci kedaulatan energi nasional.

Program mandatori B50 diharapkan tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, seperti memperkuat daya saing industri dalam negeri, mendukung kesejahteraan petani kelapa sawit, menciptakan lapangan kerja, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak.

Persiapan Tahapan Selanjutnya

Selain biodiesel, pemerintah juga tengah mempersiapkan infrastruktur dan regulasi untuk mandatori bioetanol sebagai bagian dari diversifikasi energi terbarukan. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sumber energi domestik dan mencapai target-target energi berkelanjutan.

Baca juga:

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, menandai koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam mendukung program strategis nasional.