Media Kampung, Kupang – Seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang diduga mengalami depresi setelah batal mengikuti sidang skripsi sebanyak 12 kali. Peristiwa ini menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan mahasiswi tersebut menangis histeris menjadi viral di media sosial.

Dalam video tersebut, mahasiswi bernama JST tampak tergeletak di lantai sambil menangis tidak terkendali. Kejadian ini dipicu oleh pembatalan sidang yang disebabkan permintaan penggantian dosen penguji secara mendadak, meskipun jadwal sidang sudah sangat dekat.

Baca juga:

Fakta Utama dan Penanganan Kampus

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, Apris Adu, membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pihak fakultas segera menggelar rapat koordinasi setelah video viral. JST saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Wira Sakti Kupang untuk memantau kondisinya.

Apris menjelaskan bahwa secara akademik JST telah menyelesaikan seluruh mata kuliah dan ujian proposal, sehingga tinggal menunggu sidang skripsi sebagai tahap akhir kelulusan. Namun, pembatalan sidang yang berulang kali oleh dosen penguji membuat proses kelulusan menjadi terhambat.

Pihak kampus berkomitmen untuk menyelidiki dan memproses siapa pun yang terbukti bersalah dalam kasus ini, baik dosen maupun mahasiswa, dengan perlakuan yang adil dan setara.

Baca juga:

Investigasi dan Tindak Lanjut Universitas

Wakil Rektor IV Undana, Philiphi de Rozari, menyatakan bahwa universitas tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden ini. Ia mengimbau publik untuk bersabar menunggu hasil resmi dari proses tersebut.

Philiphi menegaskan bahwa hasil investigasi akan diumumkan secara transparan kepada masyarakat luas dan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan akademik agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain itu, universitas tidak menutup kemungkinan memberikan sanksi tegas, termasuk pemecatan, kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran dalam proses akademik.

Baca juga:

Dampak dan Pentingnya Penanganan Kasus

Kejadian ini menyoroti pentingnya dukungan psikologis dan sistem akademik yang transparan bagi mahasiswa. Pembatalan sidang skripsi yang berulang dapat memberikan tekanan mental berat hingga berpotensi menyebabkan depresi.

Pihak kampus dan masyarakat diharapkan dapat memberikan perhatian lebih pada aspek kesehatan mental mahasiswa, serta memastikan proses akademik berjalan adil dan profesional.