Media Kampung, Jakarta – Upaya pencarian lima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih terus dilakukan secara mandiri oleh keluarga dan komunitas pers, meskipun operasi pencarian resmi oleh Basarnas telah dihentikan pada pertengahan September 2026.
Pencarian yang berlangsung mandiri ini diprakarsai oleh Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo. Ia menyampaikan bahwa komunikasi dan koordinasi aktif terus dilakukan dengan keluarga korban serta para nelayan yang beroperasi di sekitar laut Selat Sunda untuk membantu pencarian.
Upaya Pencarian Mandiri dan Koordinasi dengan Keluarga
Dwi Pambudo menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih berikhtiar dengan delapan keluarga korban, termasuk keluarga Bagus, salah satu jurnalis foto ANTARA yang turut hilang. Pencarian dilakukan sambil aktivitas nelayan sehari-hari, yang secara mandiri menyisir dan membantu identifikasi para korban.
Operasi SAR resmi telah berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 7 hingga 17 September 2026, namun pencarian resmi dihentikan sesuai ketentuan. Setelah itu, komunitas pers dan keluarga korban melanjutkan upaya pencarian secara swadaya.
Penghargaan untuk Dedikasi Para Jurnalis
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi dan militansi lima jurnalis tersebut dalam menjalankan tugas jurnalistik. Ia menyebut mereka layak disebut sebagai pahlawan pers karena berani mengambil risiko demi menyajikan informasi dan gambar terbaik kepada masyarakat.
Komaruddin mengingatkan bahwa proses mendapatkan gambar berkualitas tidak mudah dan seringkali berisiko tinggi, sehingga peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penghargaan dan keselamatan bagi para wartawan di lapangan.
Perhatian terhadap Keselamatan dan Perlindungan Wartawan
Peristiwa hilangnya lima jurnalis ini juga menjadi momentum bagi Dewan Pers untuk menyoroti pentingnya keselamatan dalam peliputan, terutama di wilayah berisiko seperti bencana alam atau konflik. Dewan Pers mengimbau wartawan agar selalu berkoordinasi dengan pejabat setempat dan meminta pimpinan media untuk memberikan perhatian khusus terhadap wartawan dan keluarga mereka ketika terjadi musibah.
Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi Dewan Pers Maha Eka Swasta menekankan pentingnya dukungan dan perhatian dari pimpinan perusahaan pers kepada keluarga korban dalam situasi seperti ini.
Kebutuhan Pedoman Peliputan di Wilayah Berisiko
Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers Abdul Manan menyatakan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran bagi dunia pers terkait kesiapan wartawan yang ditugaskan ke wilayah berisiko. Ia menilai Dewan Pers dan organisasi pers perlu menyusun pedoman khusus yang mengatur persiapan pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan perlindungan asuransi bagi wartawan yang meliput di wilayah konflik atau bencana.
Menurut Abdul, tanggung jawab perusahaan pers adalah memastikan wartawan siap menghadapi risiko tersebut dengan persiapan matang agar keselamatan mereka lebih terjamin. Meskipun takdir tidak bisa dilawan, persiapan dapat membantu meningkatkan peluang keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.
Apresiasi dan Harapan untuk Keluarga Korban
Dewan Pers juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah dan instansi terkait yang terus berupaya mencari jejak para jurnalis yang hilang agar dapat ditemukan dan kembali ke keluarga mereka. Komunikasi antar keluarga korban juga terus dijaga untuk memberikan dukungan dan pendampingan selama masa pencarian.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh komunitas pers akan pentingnya keselamatan, perhatian, dan persiapan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama di daerah yang berpotensi membahayakan.














Tinggalkan Balasan