Media Kampung – FIFA mengumumkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian saham Piala Dunia melalui entitas baru bernama FIFA Forward Enterprises. Rencana ini bertujuan mengumpulkan dana hingga 20 miliar dolar Amerika Serikat dan menawarkan potensi pendapatan lebih dari 80 juta dolar AS kepada masing-masing anggota FIFA jika disetujui.
Penolakan Keras UEFA terhadap Rencana FIFA
Namun, rencana FIFA tersebut mendapat penolakan keras dari UEFA, federasi sepak bola Eropa. UEFA menyatakan bahwa ide menjual saham Piala Dunia tidak mencerminkan sportivitas dan menegaskan bahwa Piala Dunia bukanlah aset yang dapat diperjualbelikan. Lebih jauh, UEFA kecewa karena rencana ini diumumkan tanpa diskusi atau sosialisasi terlebih dahulu kepada anggotanya.
Ancaman UEFA dan Concacaf
UEFA bahkan mempersiapkan langkah tegas dengan memastikan seluruh 55 anggotanya tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA apabila rencana penjualan saham ini tetap dilanjutkan. Ini berarti negara-negara besar Eropa seperti Jerman, Belanda, Spanyol, dan Italia bisa jadi tidak akan bermain di Piala Dunia putra maupun putri.
Selain UEFA, Concacaf yang menaungi sepak bola di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia juga menyatakan penolakannya. Sebanyak 41 anggota Concacaf menolak rencana FIFA menjual Piala Dunia ke investor.
Keputusan Akhir dan Dampaknya
Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberi tenggat waktu hingga 19 September 2026 bagi 211 anggota FIFA untuk menyetujui atau menolak proposal tersebut. Penjualan baru dapat dilakukan jika mayoritas anggota menyetujui. Namun, manuver ini berpotensi mengancam posisi Gianni Infantino sebagai presiden FIFA, dengan munculnya usulan mosi tidak percaya yang bisa membuatnya lengser sebelum pemilihan presiden FIFA berikutnya pada Maret 2027 di Rabat, Maroko.
Rencana penjualan saham Piala Dunia ini juga mendapat dukungan dari beberapa pihak, termasuk Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang melihat potensi pendanaan besar bagi anggotanya apabila proposal itu disetujui.
Konflik Kepentingan dan Masa Depan Sepak Bola Internasional
Situasi ini mencerminkan ketegangan antara FIFA sebagai badan pengelola sepak bola dunia dan federasi kontinental seperti UEFA dan Concacaf. Penolakan terhadap komersialisasi Piala Dunia menegaskan pentingnya menjaga nilai sportivitas dan integritas kompetisi internasional. Keputusan akhir mengenai penjualan saham ini sangat menentukan masa depan penyelenggaraan kompetisi sepak bola terbesar di dunia.
Perkembangan lebih lanjut akan sangat dinantikan oleh dunia sepak bola, terutama bagaimana FIFA dan UEFA menyelesaikan perbedaan pandangan ini demi kepentingan bersama dan keberlangsungan sepak bola global.














Tinggalkan Balasan