Media Kampung – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), induk perusahaan teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay, berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II tahun 2026. Pencapaian ini menandai keberhasilan perusahaan membalikkan kerugian Rp375 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan melanjutkan tren positif setelah laba bersih Rp171 miliar di kuartal I 2026.

Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, menyatakan bahwa laba bersih dua kuartal berturut-turut tersebut didukung oleh pertumbuhan EBITDA grup yang disesuaikan, yang naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis fintech GOTO, terutama GoPay, menjadi kontributor utama pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan, bahkan profitabilitas bisnis fintech kini melebihi bisnis layanan on-demand.

Baca juga:

Kinerja dan Pertumbuhan Ekosistem

Ekosistem GOTO juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Jumlah pengguna yang melakukan transaksi tahunan atau Annual Transacting Users (ATU) meningkat sebesar 19 persen secara tahunan menjadi 71 juta pengguna. Nilai Gross Transaction Value (GTV) inti juga tumbuh 83 persen YoY menjadi Rp164 triliun.

Segmen fintech melalui GoPay mencatat lonjakan EBITDA yang disesuaikan sebesar 447 persen menjadi Rp481 miliar, serta pendapatan bersih yang meningkat 53 persen menjadi lebih dari Rp2 triliun. Jumlah Monthly Transacting Users (MTU) mencapai 28,8 juta pengguna dengan volume transaksi meningkat 91 persen menjadi 2,4 miliar transaksi. Nilai buku pinjaman juga tumbuh 58 persen menjadi Rp11 triliun dengan kualitas pinjaman tetap terjaga.

Target dan Rencana Perusahaan

GOTO mempertahankan target EBITDA grup yang disesuaikan untuk tahun 2026 di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun. Untuk bisnis fintech, proyeksi EBITDA dinaikkan menjadi Rp1,7 hingga Rp1,8 triliun, sementara bisnis layanan on-demand diperkirakan menyumbang EBITDA sekitar Rp1,4 hingga Rp1,5 triliun.

Baca juga:

Selain itu, GOTO berencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri atau sekitar 2,7 persen dari total saham beredar. Rencana ini akan dilaksanakan setelah mendapat persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Dampak Kebijakan dan Prospek Saham

Kebijakan pemerintah yang mengatur komisi ojek online yang mulai berlaku 1 Juli 2026, memang mempengaruhi harga saham GOTO yang sempat turun ke level Rp50. Namun, sejumlah sekuritas memberikan rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga rata-rata sekitar Rp78 sampai Rp80 per saham, yang menunjukkan potensi kenaikan sekitar 60 persen dari harga penutupan terakhir.

Rekomendasi ini didukung oleh kinerja positif perusahaan dan pertumbuhan bisnis fintech yang kuat, yang menjadi tulang punggung profitabilitas GOTO. Walaupun terdapat antrean jual yang mengular, pertumbuhan ekosistem dan kinerja keuangan yang membaik memberikan sinyal positif bagi investor.

Baca juga:

Komitmen Terhadap Mitra dan Ekosistem

GOTO juga menegaskan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi Gojek melalui berbagai program seperti kepesertaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, program beasiswa, serta pemberangkatan umrah gratis. Perusahaan menilai kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak dalam ekosistem.

Dengan kinerja keuangan yang semakin solid dan pertumbuhan ekosistem yang pesat, GOTO menunjukkan posisi yang semakin kuat di pasar teknologi dan layanan keuangan digital Indonesia.