Media Kampung – Dua ETF global yang berfokus pada saham dividen di luar Amerika Serikat, yaitu Global X SuperDividend (SDIV) dari Mirae Asset dan Vanguard International High Dividend Yield (VYMI), memasukkan sejumlah saham Indonesia dalam portofolionya. Artikel ini mengulas lima saham Indonesia yang menjadi favorit kedua ETF tersebut dan menarik untuk dipertimbangkan oleh investor dividen.

Profil Dua ETF Dividen Global

SDIV menawarkan dividend yield tinggi hingga 9,28 persen, namun mengalami penurunan harga saham yang signifikan sejak 2011 hingga 66 persen, dan 38 persen sejak 2021. Meski demikian, dalam satu tahun terakhir SDIV naik 4,55 persen. Sebaliknya, VYMI memiliki dividend yield lebih rendah, 3,68 persen, tetapi menunjukkan tren kenaikan harga yang stabil dengan pertumbuhan sekitar 25 persen dalam setahun dan 97 persen sejak peluncuran pada 2016. Dari segi biaya, VYMI juga lebih efisien dengan expense ratio 0,07 persen, sedangkan SDIV 0,58 persen.

Baca juga:

Lima Saham Indonesia Favorit ETF Dividen

1. PTBA (Bukit Asam)

PTBA menjadi pilihan kelima dengan nilai dana kelolaan gabungan kedua ETF mencapai Rp204 miliar. Dalam SDIV, bobot PTBA adalah 0,89 persen dan di VYMI 0,003 persen. PTBA dikenal sebagai saham dividen yang kuat, terutama saat harga batu bara melonjak seperti pada 2022 dengan dividend yield mencapai 29,57 persen. Namun, perusahaan menurunkan payout ratio menjadi 45 persen dengan dividen tahun buku 2025 sekitar Rp114 per saham atau yield 3,88 persen. Penyesuaian ini terkait kebutuhan kas dan proyek pengembangan seperti jalur kereta batu bara dan pembangkit listrik smelter aluminium.

2. ADRO (Adaro Energy)

ADRO menempati posisi keempat dengan dana kelolaan Rp253 miliar. Bobotnya di SDIV 1,08 persen dan di VYMI 0,005 persen. ADRO rutin membagikan dividen dua kali setahun dengan yield rata-rata 8-9 persen sejak 2017. Meski sudah melepas bisnis batu bara thermal pada 2024, ADRO tetap fokus pada batu bara metalurgi, smelter aluminium, dan energi baru terbarukan, sehingga tetap menarik sebagai saham dividen.

3. BBCA (Bank Central Asia)

BBCA menempati posisi ketiga dengan total dana kelolaan Rp290 miliar dan bobot di VYMI sebesar 0,078 persen. Meskipun dividend yield BBCA relatif rendah, antara 1-4 persen per tahun, saham ini tetap dipilih karena merupakan saham dengan bobot terbesar di IHSG, memberikan eksposur pasar Indonesia dalam ETF. BBCA memiliki rencana mengubah siklus pembagian dividen menjadi lebih sering, yakni 3-4 kali setahun.

Baca juga:

4. BMRI (Bank Mandiri)

BMRI menjadi saham kedua terbesar dalam dana kelolaan ETF dengan total Rp398 miliar. Bobot BMRI di SDIV 0,97 persen dan di VYMI 0,05 persen. Setelah pandemi Covid-19, BMRI meningkatkan payout ratio menjadi 78 persen pada 2024 yang membuat dividend yield mencapai 9,14 persen, dan pada 2025 yield bahkan mencapai 10,3 persen. BMRI membagikan dividen dua kali setahun dan menjadi pilihan utama dalam segmen saham dividen dengan bobot besar di indeks.

5. BBRI (Bank Rakyat Indonesia)

BBRI memiliki porsi dana terbesar di antara saham Indonesia lainnya, mencapai Rp415 miliar dengan bobot 0,89 persen di SDIV dan 0,06 persen di VYMI. Peningkatan payout ratio sejak 2024 hingga 92 persen pada tahun buku 2025 membuat dividend yield BBRI menarik, sekitar 10 persen. BBRI juga membagikan dividen dua kali setahun dan mulai dipandang sebagai saham dividen yang menarik pasca transformasi menjadi holding ultra mikro.

Catatan dan Prospek Saham Dividen

Investor perlu memperhatikan payout ratio saat menilai saham dividen. Beberapa saham memiliki payout ratio lebih dari 100 persen yang bisa mengindikasikan pembagian dividen yang tidak berkelanjutan. Selain itu, fluktuasi harga saham terutama terkait perubahan bobot MSCI dapat mempengaruhi daya tarik dividen. Kenaikan harga saham yang signifikan bisa menurunkan dividend yield meski kinerja laba positif.

Baca juga:

Kesempatan dan Rekomendasi

Kelima saham ini menunjukkan kombinasi potensi dividen dan likuiditas yang menarik untuk investor yang mengincar pendapatan pasif. Namun, investor harus terus mengikuti perkembangan payout ratio dan kinerja bisnis masing-masing perusahaan. ETF seperti SDIV dan VYMI memberikan alternatif diversifikasi dengan fokus pada saham dividen global termasuk dari Indonesia.