Media Kampung – Happy Hapsoro kembali menunjukkan langkah strategisnya dalam mengembangkan bisnis energi di Indonesia dan kawasan internasional. Melalui keterlibatannya di dua emiten besar, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), Hapsoro menggerakkan ekspansi signifikan di sektor tambang batu bara dan migas.
SINI, yang berkolaborasi dengan PT Petrosea Tbk (PTRO), melakukan pengelolaan tambang batu bara di Kalimantan Tengah. Kerja sama ini meliputi pengupasan lapisan penutup dan penambangan batu bara di wilayah Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas. Proyek ini dikelola melalui anak usaha SINI, yakni PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP). Selama masa kontrak, SINI memproyeksikan pendapatan hingga Rp 57,05 triliun dari aktivitas tambang tersebut.
Volume pengupasan di tambang PBC mencapai sekitar 189 juta bank cubic meter (BCM), dengan produksi batu bara diperkirakan mencapai 42 juta ton untuk batu bara berkalori GAR 4.200. Sedangkan tambang CBP diperkirakan melakukan pengupasan sekitar 40 juta BCM dan menghasilkan 8 juta ton batu bara berkalori GAR 5.000. Sinergi ini juga memperkuat posisi PT Petrosea sebagai penyedia jasa pertambangan sekaligus pemegang saham SINI dengan kepemilikan meningkat menjadi hampir 20%.
Selain di sektor batu bara, Happy Hapsoro juga aktif mengembangkan bisnis di sektor hulu migas melalui RATU yang tengah menjajaki rencana akuisisi aset migas di Australia, Malaysia, dan kawasan Timur Tengah. Meskipun masih dalam tahap penjajakan awal, rencana ini menunjukkan fokus RATU pada pertumbuhan anorganik melalui strategi akuisisi. RATU juga membidik aset di Thailand, Turki, Irak, dan Amerika Serikat.
Kendala utama dalam proses akuisisi adalah valuasi aset yang masih tinggi akibat asumsi harga minyak dunia yang dipatok di sekitar US$100 per barel, sementara RATU menilai harga yang realistis berada di kisaran US$60-70 per barel. Meski demikian, perusahaan menargetkan realisasi beberapa akuisisi pada tahun 2026 jika kondisi pasar mendukung. Dalam aspek keuangan, RATU memproyeksikan laba bersih hampir dua kali lipat mencapai US$26,75 juta pada 2026 dengan pendapatan sekitar US$51 juta.
Langkah-langkah strategis ini menegaskan peran Happy Hapsoro sebagai penggerak utama dalam pengembangan sektor energi Indonesia dan internasional. Kolaborasi di sektor batu bara dan ekspansi agresif di migas memperlihatkan visi integrasi bisnis yang kuat serta potensi pertumbuhan yang berkelanjutan.















Tinggalkan Balasan