Media Kampung, Meulaboh – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, masih setia mempertahankan cara tradisional dalam membuat lemang, kuliner khas Aceh. Proses memasak menggunakan bambu, daun pisang, dan kayu bakar dinilai mampu menjaga cita rasa autentik makanan tersebut.
Hamdani, pemilik usaha lemang, mengatakan bahan utama pembuatan lemang terdiri dari beras ketan, santan kelapa, dan garam. Semua bahan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang sebelum dibakar. “Beras ketan dicampur santan dan garam, kemudian dimasukkan ke bambu yang sudah diberi daun pisang. Setelah itu baru dibakar,” ujarnya saat dikunjungi tim RRI Meulaboh pada Rabu, 30 Juni 2026.
Ia menjelaskan, usaha berjualan lemang telah dijalankannya sekitar enam tahun. Namun, penjualan hanya dilakukan saat musim durian karena permintaan masyarakat meningkat. “Kalau jualan lemang sudah enam tahun, tetapi biasanya hanya saat musim durian,” tambahnya.
Istri Hamdani, Safriana, yang terlibat dalam proses produksi menjelaskan, pemasangan daun pisang di dalam bambu dilakukan secara rapi agar adonan tidak menempel pada bambu saat matang. “Daunnya dimasukkan dulu ke dalam bambu sampai rapi, baru diisi beras ketan dan santan,” ujarnya.
Proses pembakaran lemang masih sangat tradisional dengan menggunakan kayu bakar, berlangsung selama beberapa jam sehingga santan meresap sempurna ke dalam beras ketan dan menghasilkan aroma khas. Tradisi menikmati lemang bersama durian masih menjadi kebiasaan masyarakat Aceh saat musim panen durian. Selain menjadi kuliner favorit, perpaduan keduanya juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Aceh Jaya sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM kuliner daerah.















Tinggalkan Balasan