Media Kampung – PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melaporkan kinerja keuangan semester I-2026 yang positif. Pendapatan perusahaan mencapai Rp1 triliun, naik 52% year-on-year (yoy), sementara laba bersih melonjak 34,4% menjadi Rp56,48 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan laba ini didorong oleh ekspansi gerai yang agresif menggunakan dana hasil IPO. Hingga akhir Juni 2026, FORE telah mengoperasikan 377 gerai, terdiri dari 363 kedai kopi, 10 gerai Fore Donut, dan 4 gerai di Singapura. Lebih dari 40% gerai berada di kota tier-2 dan tier-3, strategi yang dipilih untuk menghindari persaingan ketat.
Realisasi Dana IPO
FORE berhasil mengumpulkan dana IPO sebesar Rp337,2 miliar. Hingga semester I-2026, dana yang telah terealisasi mencapai Rp166,71 miliar atau 49,44% dari total dana bersih. Sebagian besar dana digunakan untuk pembukaan gerai baru (Rp155,71 miliar dari rencana Rp275 miliar) dan setoran modal ke anak usaha (Rp11 miliar dari rencana Rp60 miliar). Sisa dana Rp170,48 miliar ditempatkan di giro Bank Mandiri dengan bunga sekitar 5% per tahun.
Manajemen FORE menargetkan pembukaan 100 gerai baru pada 2026, terdiri dari 70 kedai kopi dan 30 gerai donat. Hingga pertengahan tahun, 50 gerai telah terealisasi. Dengan sisa dana IPO untuk ekspansi sekitar Rp119 miliar, perusahaan dinilai masih memiliki amunisi untuk menyelesaikan target tersebut.
Prospek dan Risiko
Analis menilai FORE masih berada dalam fase pertumbuhan. Efek ekspansi diperkirakan baru terlihat penuh pada tahun berikutnya. Namun, ada beberapa risiko yang perlu dicermati investor. Pertama, masa lock-up saham telah berakhir, berpotensi memicu aksi jual dari investor awal. Kedua, beban operasional meningkat dari Rp363,62 miliar menjadi Rp539,81 miliar, yang dapat menekan margin jika tidak diimbangi efisiensi. Ketiga, saldo kas turun menjadi Rp263,96 miliar akibat aktivitas investasi, sementara kewajiban sewa jangka pendek membengkak menjadi Rp105,29 miliar.
Dari sisi valuasi, saham FORE saat ini memiliki price-to-book value (PBV) sekitar 8,22 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan MAPB yang berada di kisaran 1,85 kali. Secara teknikal, harga saham FORE masih tertahan di area resistance MA100 harian sekitar Rp700. Jika gagal menembus level tersebut, koreksi jangka pendek menuju support Rp620 mungkin terjadi.
Perbandingan dengan MAPB
Sebagai pembanding, FORE dibandingkan dengan MAPB yang mengoperasikan Starbucks di Indonesia. Meskipun MAPB memiliki gross profit margin lebih tinggi (67% vs 61,9%), perusahaan masih mencatat rugi bersih akibat biaya operasional yang tinggi. FORE justru mampu membukukan laba berkat struktur biaya yang lebih ringan dan model bisnis yang terdigitalisasi. Namun, kondisi MAPB menjadi gambaran tantangan yang mungkin dihadapi FORE ketika dana IPO mulai menipis.
Kesimpulannya, FORE menawarkan cerita pertumbuhan yang menarik dengan dukungan dana IPO yang masih besar. Namun, investor perlu waspada terhadap risiko valuasi yang tinggi dan potensi supply overhang. Strategi buy on weakness dinilai lebih bijak daripada mengejar harga.















Tinggalkan Balasan