Media Kampung, Palembang – Di tengah maraknya penggunaan sepeda motor untuk mengumpulkan barang bekas, Dahlan (55) memilih setia pada gerobak dorongnya. Pria asal Palembang ini telah menjalani profesi sebagai tukang rongsok tradisional selama 15 tahun, mengandalkan tenaga kaki untuk berkeliling dari satu permukiman ke permukiman lain.
Setiap hari, Dahlan memulai aktivitasnya sejak pukul 06.00 WIB. Rutenya menjangkau kawasan Veteran, dan waktu pulang tidak menentu tergantung hasil yang diperoleh. “Kalau gerobak belum penuh, biasanya saya belum pulang. Kadang kalau sudah malam dan belum sempat pulang, saya menginap dulu di tempat agen karena rumah saya jauh,” ujarnya saat ditemui di kawasan Lampu Merah Boom Baru, Palembang, Minggu (19/7/2026).
Barang yang Dikumpulkan dan Pendapatan
Dahlan mengumpulkan berbagai jenis barang bekas seperti botol plastik, plastik bekas minuman, kardus, dan besi bekas. Plastik bekas minuman menjadi komoditas yang paling sering ditemukan. Harga jualnya mencapai Rp13.000 per kilogram, sementara besi dihargai sekitar Rp5.000 per setengah kilogram. Dalam satu gerobak, Dahlan paling banyak membawa sekitar empat kilogram plastik bekas minuman. Pendapatan tertinggi yang pernah diraihnya mencapai Rp60.000 dalam sehari, namun jumlah itu tidak menentu dan seringkali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Tantangan dan Harapan
Tantangan terbesar yang dihadapi Dahlan adalah harus berjalan kaki sambil mendorong gerobak setiap hari, ditambah cuaca yang tidak menentu. Ia juga kerap dicurigai warga saat memasuki kawasan permukiman. “Harga rongsokan sering naik turun. Kadang hasil yang didapat tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi,” keluhnya. Meski demikian, Dahlan tetap bertahan karena pekerjaan ini merupakan mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarganya. Ia juga menilai aktivitasnya turut membantu mengurangi sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Dahlan berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para pencari nafkah kecil seperti dirinya. “Harapan saya pemerintah bisa lebih memperhatikan kami. Semoga ada bantuan untuk pencari nafkah kecil seperti saya, karena pekerjaan ini juga ikut membantu membersihkan lingkungan,” tuturnya. (Laporan M. Wirya Gunawan, mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang).











