Media Kampung, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat laba bersih sebesar Rp1,3 triliun pada kuartal II-2026, tumbuh 61% secara tahunan (YoY) dan 17% secara kuartalan (QoQ). Capaian tersebut merupakan level tertinggi secara kuartalan sejak kuartal I-2019. Secara kumulatif, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp2,4 triliun, naik 41% YoY, jauh melampaui ekspektasi pasar karena setara dengan 62% dari estimasi laba bersih tahun 2026 konsensus.
Kinerja positif tersebut utamanya didukung oleh penurunan beban provisi yang signifikan sebesar 61% YoY, seiring perbaikan kualitas aset. Rasio biaya kredit (cost of credit/CoC) turun menjadi 0,7% pada 1H26, dibandingkan 2% pada 1H25, berada di bawah guidance manajemen untuk 2026 yang berkisar 1-1,2%. Manajemen memperkirakan CoC akan berada di batas bawah guidance pada akhir 2026 tanpa rencana backloading provision.
Kualitas Aset Membaik
Rasio kredit bermasalah (NPL gross) turun menjadi 2,99% pada Juni 2026, dari 3,33% pada Juni 2025 dan 3,12% pada Maret 2026. Manajemen menargetkan NPL gross berada di kisaran 2,8-2,9% pada akhir 2026. Sementara itu, rasio coverage NPL ditargetkan tetap 125% (saat ini 122%).
Perbaikan kualitas aset juga tercermin dari penurunan day past due credit vintage 24 bulan menjadi 5,5% pada Juni 2026 (Juni 2025: 8,7%) serta penurunan rasio kredit dalam perhatian khusus (LAR).
PPOP Tertekan Penyesuaian Akuntansi
Pendapatan operasional sebelum provisi (PPOP) turun 23% YoY selama 1H26, terutama akibat pelemahan pendapatan bunga yang turun 12% YoY. Hal ini disebabkan oleh high-base effect dari penyesuaian perhitungan effective interest income pada segmen KPR non-subsidi. Di luar faktor tersebut, pendapatan bunga masih tumbuh 9% YoY.
Likuiditas Diperkirakan Ketat pada 2H26
Beban bunga turun 16% YoY, sehingga biaya dana (cost of fund/CoF) turun menjadi 3% pada 1H26, dibandingkan 4,1% pada 1H25. Namun, CoF pada Juni 2026 sedikit naik secara bulanan seiring wacana pemerintah menarik dana saldo anggaran lebih (SAL) Rp200 triliun dari perbankan. Terkait injeksi SAL Rp400 triliun pada akhir Juni 2026, BBTN memperoleh alokasi Rp38,3 triliun, setara 9% dari total dana pihak ketiga (DPK) perseroan. Meski demikian, manajemen memperkirakan likuiditas akan tetap ketat dan CoF meningkat ke kisaran 3,1-3,3% pada akhir 2026.
Pertumbuhan Kredit Berpotensi Melambat
Pertumbuhan kredit per Juni 2026 mencapai 11% YoY, melampaui guidance manajemen 8-10% YoY untuk 2026, sehingga berpotensi melambat pada 2H26. Pertumbuhan didorong oleh kredit non-perumahan, termasuk akuisisi portofolio kredit pensiunan Bank SMBC Indonesia (BTPN) yang dilakukan pada akhir Juni 2026. Manajemen juga berencana mengakuisisi portofolio kredit konsumer dari salah satu bank swasta asing pada 2027.
Menyusul pengumuman kinerja 1H26 yang melampaui ekspektasi, harga saham BBTN ditutup naik 4,13% pada Jumat (17/7/2026), meski kenaikan tersebut turut dipengaruhi oleh penguatan sektor keuangan secara umum.























Tinggalkan Balasan