Media Kampung, Jakarta — Platform distribusi game PC Steam, milik Valve, mencatat pendapatan kotor sekitar US$11,1 miliar atau setara Rp180 triliun pada paruh pertama 2026. Angka tersebut hampir menyamai total pendapatan Steam sepanjang tahun 2021 yang mencapai US$11,4 miliar, periode puncak industri game akibat pandemi COVID-19.

Data tersebut merupakan estimasi dari firma riset Alinea Analytics. Valve tidak merilis laporan keuangan publik karena berstatus perusahaan privat. Meski demikian, estimasi ini memberikan gambaran dominasi Steam dalam ekosistem game PC global.

Game Lawa Jadi Mesin Uang Utama

Menariknya, hanya sekitar 21 persen pendapatan Steam berasal dari game baru yang dirilis pada 2026. Sisanya, sekitar 79 persen, berasal dari katalog game lama yang masih aktif dimainkan dan dibeli pengguna. Fenomena ini menunjukkan umur komersial game kini lebih panjang dibanding era distribusi fisik.

Diskon musiman, pembaruan konten, dan komunitas pemain yang aktif menjadi faktor utama yang menjaga penjualan game lama tetap tinggi. Beberapa game terlaris pada paruh pertama 2026 antara lain Forza Horizon 6 (US$197,7 juta), Resident Evil Requiem (US$194,5 juta), dan Crimson Desert (US$190,1 juta).

Faktor Pertumbuhan dan Dominasi Pasar

Pertumbuhan Steam didorong oleh meningkatnya jumlah pengguna aktif di Asia, terutama Tiongkok yang merupakan pasar PC gaming terbesar di dunia. Selain itu, banyak publisher yang kembali memasarkan game mereka melalui Steam setelah sebelumnya mencoba membangun platform distribusi sendiri.

Sementara itu, pesaing seperti Epic Games Store masih mengandalkan program pembagian game gratis untuk mempertahankan daya tarik. Hal ini menunjukkan posisi Steam sebagai pusat distribusi game PC masih sangat kuat. Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti meningkatnya harga game dan perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam pembelian.