Media Kampung, Surabaya — Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki potensi banjir, longsor, tsunami, hingga kebakaran hutan, membutuhkan edukasi kebencanaan yang menyeluruh. Namun, masih banyak warga yang belum memiliki kesadaran terhadap mitigasi bencana. Untuk mengatasi hal ini, kampanye sadar bencana digalakkan dengan memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan: perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Edukator Edusantana, Eka Febryana Megaratry, S.Pd., menegaskan bahwa kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam edukasi kebencanaan. Mereka memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi saat bencana terjadi, sehingga perlu dibekali pengetahuan mengenai mitigasi, cara menyelamatkan diri, mengenali risiko di sekitar, hingga langkah-langkah evakuasi.
Edukasi Sejak Dini dan Simulasi Tanggap Bencana
Selain kelompok rentan, edukasi kebencanaan juga ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak lebih mudah memahami materi melalui metode menyenangkan seperti permainan edukatif, cerita, dan simulasi tanggap bencana. Melalui simulasi, mereka belajar mengenali tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi, dan memahami cara meminta pertolongan tanpa rasa takut.
Kesiapsiagaan Kesehatan dalam Tanggap Darurat
Tenaga kesehatan Medisantana, Evi Zuroidah, S.Kep., Ns., menekankan pentingnya pemahaman kesehatan selama masa tanggap darurat. Kelompok rentan harus tahu cara menjaga kondisi tubuh, tetap tenang, menggunakan perlengkapan darurat dengan benar, serta mengikuti arahan petugas agar proses penyelamatan berjalan aman.
Jangkauan Edukasi Melalui Jaringan Relawan
Melalui jaringan relawan Santana, edukasi tanggap bencana telah menjangkau 117 titik di berbagai wilayah Indonesia. Relawan memberikan pelatihan mitigasi, simulasi evakuasi, dan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai upaya pencegahan bencana. Eka mencontohkan pengalaman di Kabupaten OKU Selatan, di mana masih banyak masyarakat yang belum memahami ancaman bencana di wilayahnya, padahal potensi bencana cukup tinggi.
Rendahnya kesadaran juga terlihat dari perilaku membuang sampah sembarangan ke sungai, yang meningkatkan risiko banjir. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk mitigasi paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Santana terus memperluas jangkauan edukasi agar budaya sadar bencana semakin tertanam di Indonesia.























Tinggalkan Balasan