Media Kampung, Singapura — Pertumbuhan ekonomi Singapura melambat pada kuartal II 2026, meskipun masih ditopang kuat oleh permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mendorong sektor manufaktur. Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,7 persen secara tahunan pada periode April-Juni 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Secara kuartalan, setelah disesuaikan secara musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1 persen, juga melambat dari pertumbuhan 1,3 persen pada kuartal I-2026.

Penyebab Perlambatan

Perlambatan terutama terjadi pada sektor konstruksi yang hanya tumbuh 6,2 persen secara tahunan, turun drastis dari 12,9 persen pada kuartal I. Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, transportasi, serta pergudangan tumbuh 6,3 persen, lebih rendah dibandingkan 9,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Manufaktur Tetap Kuat

Di sisi lain, sektor manufaktur tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 12,2 persen, meningkat dari 8 persen pada kuartal I. MTI menyebut kinerja ini didorong oleh meningkatnya produksi di industri elektronik dan rekayasa. Namun, industri kimia dan biomedis justru mengalami kontraksi akibat terganggunya pasokan bahan baku sebagai dampak konflik di Timur Tengah.

Kinerja Ekspor

Kinerja perdagangan masih menunjukkan tren positif. Ekspor domestik nonmigas (NODX) Singapura melonjak 38,4 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu, setelah naik 24,4 persen pada April.

Prospek dan Risiko

Meskipun demikian, prospek ekonomi Singapura masih dibayangi ketidakpastian akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran mendorong harga minyak kembali naik ke atas USD 80 per barel, setelah sebelumnya sempat turun ke USD 71 per barel usai kesepakatan gencatan senjata.

Senior Economist Oxford Economics, Sheana Yue, mengatakan ekspor berbasis AI diperkirakan masih bakal menjadi mesin utama pertumbuhan Singapura pada paruh kedua tahun ini. “Dampak lanjutan ini biasanya akan menekan belanja rumah tangga, investasi bisnis, serta sektor transportasi dan jasa perdagangan pada kuartal-kuartal mendatang. Meski demikian, permintaan AI dan posisi Singapura dalam rantai pasok regional akan membuat ekspor tetap menjadi mesin utama pertumbuhan,” ujarnya.

Oxford Economics memproyeksikan ekonomi Singapura tumbuh 3,4 persen sepanjang 2026, berada di kisaran atas proyeksi MTI sebesar 2-4 persen.

Sementara itu, Kepala Ekonom Grup RHB Bank, Barnabas Gan, mengingatkan bahwa selain risiko geopolitik, perlambatan investasi AI juga dapat menjadi ancaman bagi ekonomi Singapura. “Perlambatan investasi AI yang lebih tajam dari perkiraan akan mengurangi permintaan global terhadap semikonduktor dan produk elektronik, sehingga menekan ekspor, produksi industri, dan permintaan eksternal Singapura,” kata Gan.