Pembukaan MPLS Ramah di SMP Negeri 3 Banjar
Media Kampung, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 resmi dimulai serentak di seluruh jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP di Kabupaten Buleleng, Senin, 13 Juli 2026. Pembukaan dipusatkan di SMP Negeri 3 Banjar sebagai simbol dimulainya MPLS yang mengedepankan pendidikan karakter, lingkungan belajar yang aman, serta sekolah ramah anak.
Sebanyak 28.371 murid baru mengikuti MPLS yang berlangsung selama lima hari hingga 17 Juli 2026. Rinciannya meliputi 8.199 murid PAUD/TK, 10.018 murid SD, dan 10.154 murid SMP yang tersebar di seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Buleleng.
Materi MPLS: Etika Digital dan Gerakan 5S
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, mengatakan MPLS merupakan implementasi Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tahapan penting untuk membantu peserta didik baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus membangun karakter sejak hari pertama.
Selama pelaksanaan MPLS, murid baru dibekali materi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, etika bermedia sosial, budaya Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun (5S), serta Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI). Peserta juga dikenalkan pada tata tertib sekolah, keselamatan berlalu lintas, penguatan literasi dan numerasi, serta berbagai kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah.
Materi MPLS juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan, kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, maupun dampak negatif media sosial. Para murid diajak membangun sikap disiplin, tanggung jawab, gotong royong, serta menghormati guru, teman, dan seluruh warga sekolah.
Disdikpora Ingatkan MPLS Edukatif Tanpa Perpeloncoan
Disdikpora juga mengingatkan seluruh guru dan panitia agar melaksanakan MPLS secara edukatif, menyenangkan, inklusif, dan tanpa praktik perpeloncoan. Orang tua diharapkan turut berperan aktif mendampingi anak selama masa transisi serta menjalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.
“Kami ingin seluruh peserta didik merasa aman, nyaman, dan bangga menjadi bagian dari sekolahnya. Mereka juga harus mampu menolak segala bentuk perundungan, kekerasan, maupun pengaruh negatif agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter,” ucap Surya Bharata.






















Tinggalkan Balasan