Media Kampung, Jakarta — Brigadir Jenderal TNI Wahyo Yuniartoto menjadi sorotan setelah namanya disebut dalam rumor keterlibatan personel TNI di Polda Metro Jaya. Meski isu itu dibantah TNI, profil perwira tinggi yang pernah menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto ini menarik untuk diketahui.

Wahyo Yuniartoto lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 18 Juni 1979. Ia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2001 dan memiliki rekam jejak panjang di korps baret merah, Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Di satuan elite tersebut, ia pernah menjabat Komandan Batalyon 14 Grup 1 Kopassus, Wakil Komandan Grup 2 Kopassus, Asisten Operasi Kopassus, hingga Komandan Grup 2 Kopassus. Ia juga berpengalaman di jalur teritorial sebagai Komandan Kodim 0703, di mana ia meraih predikat lulusan terbaik saat mengikuti Pendidikan Komandan Kodim pada 2018.

Karier Wahyo terus menanjak. Ia sempat menjadi Kepala Staf Ahli Panglima Kodam IX/Udayana sebelum akhirnya dipercaya sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto. Dalam mutasi akhir tahun 2025, ia resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal TNI AD dan dipromosikan ke jabatan Direktur C Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI sejak Maret 2026.

Kenaikan pangkatnya dibenarkan Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI (Mar) Freddy Ardianzah, yang menyebut Wahyo termasuk perwira yang “pecah bintang” dalam mutasi akhir tahun 2025.

Di luar tugas kemiliteran, Wahyo aktif dalam olahraga dan penanggulangan bencana. Ia pernah menjadi manajer Tim Pencak Silat Indonesia dan memimpin satgas penanganan bencana alam. Ia juga mengantongi gelar Magister dari Universitas Pertahanan (Unhan).

Julukan “Bapak Matahari” atau “The Sun” melekat pada dirinya, yang mencerminkan sosoknya yang dikenal energik dan bersemangat.

Namun, namanya kembali mencuat ke publik setelah beredar rumor bahwa ia bersama Brigjen Anggiat Napitupulu terlibat dalam aksi puluhan pria berambut cepak yang mendatangi Polda Metro Jaya pada Rabu malam, 8 Juli 2026. Rombongan itu disebut hendak menjemput saksi dalam penyidikan dugaan korupsi dan TPPU yang menyeret Jampidsus Febrie Adriansyah.

Kapuspen TNI Brigjen Muhammad Nas membantah keras keterlibatan personel TNI. “Berita itu tidak benar, tidak ada prajurit TNI yang ke Polda terkait masalah ini,” tegasnya. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.