Media Kampung, Ankara — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan kembali melancarkan serangan militer. Pernyataan itu disampaikan Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (18/6/2025), setelah Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

“Sejauh yang saya tahu, ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka,” kata Trump kepada wartawan. Ia menyebut Iran sebagai “sampah” dan “pemimpin yang sakit”. Meski demikian, Trump mengaku masih membuka ruang negosiasi.

Sebelumnya, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap hampir 100 target di Iran sebagai respons atas serangan Tehran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait. Trump menyebut serangan AS sangat keras dan kemungkinan akan berlanjut pada malam harinya.

Ketegangan meningkat setelah Iran melanggar gencatan senjata yang rapuh dengan meluncurkan drone dan rudal ke kapal-kapal di Selat Hormuz. AS menganggap tindakan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata dan langsung membalas. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut respons AS sebagai tindakan yang “sangat diperlukan”.

Eskalasi ini memicu kekhawatiran akan meletusnya kembali perang skala penuh di Timur Tengah. Harga minyak dunia langsung melonjak setelah pernyataan Trump. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas global, dan konflik sebelumnya sempat mengganggu pengiriman energi. AS juga telah mencabut keringanan sanksi minyak Iran yang diberikan selama negosiasi damai.

Gencatan senjata sebelumnya tercapai setelah Israel dan AS menyerang Iran pada awal tahun, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat tinggi lainnya. Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel dan kawasan Teluk, serta menguasai Selat Hormuz. Hizbullah juga ikut terlibat dengan meluncurkan roket ke Israel, yang dibalas dengan invasi Israel ke Lebanon selatan.

Kekhawatiran akan keselamatan warga asing di negara-negara Teluk dan personel militer AS yang ditempatkan di sejumlah negara meningkat. Ribuan pelaut masih berada di kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.