Media Kampung, Tiga emiten Grup Bakrie—PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT VKTR Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)—sedang dalam proses rights issue untuk menggalang dana segar. Masing-masing memiliki jadwal, harga pelaksanaan, dan tujuan yang berbeda.
BNBR: Cum Date Hari Ini, Target Dana Rp4,76 Triliun
BNBR memasuki periode cum date pada Rabu, 8 Juli 2026. Investor yang membeli saham hari ini masih berhak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Perseroan akan menerbitkan hingga 89 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp53 per saham, menargetkan dana segar Rp4,36 triliun hingga Rp4,76 triliun. Rasio rights issue adalah 27:14, artinya setiap 27 saham lama berhak atas 14 HMETD. Total saham beredar akan meningkat dari 173,42 miliar lembar menjadi maksimal 263,33 miliar lembar, berpotensi melusi kepemilikan hingga 34,15 persen bagi pemegang saham yang tidak menebus haknya.
Dana hasil rights issue sebagian besar akan digunakan untuk pelunasan utang. Sekitar Rp3,66 triliun dialokasikan untuk melunasi utang anak usaha kepada Hardman International, dan Rp700 miliar untuk melunasi utang kepada Bank Nobu. Selain itu, Rp200 miliar akan disuntikkan ke PT Bakrie Construction untuk proyek Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Zona Rokan Dumai, dan Rp40 miliar untuk proyek Jalan Tol Cimanggis–Cibitung. Sisanya untuk modal kerja.
Berdasarkan perhitungan, harga teoritis saham BNBR setelah rights issue diperkirakan berada di Rp69 per saham, berpotensi terkoreksi 32,4 persen dari harga penutupan Rp102 pada 7 Juli 2026. Bakrie Capital Indonesia akan bertindak sebagai pembeli siaga, dengan kepemilikan diperkirakan 15–34 persen tergantung partisipasi investor publik.
VKTR: Rights Issue Tanpa Pembeli Siaga, Ekspansi Bus Listrik
VKTR dijadwalkan cum date pada 28 Juli 2026. Perseroan akan menerbitkan 25 miliar saham baru, setara 57 persen dari total saham saat ini (43,75 miliar lembar). Rasio rights issue adalah 7:4, di mana setiap 7 saham lama mendapat 4 HMETD. Harga pelaksanaan belum diumumkan, namun berdasarkan ekuitas per akhir 2025 sebesar Rp1,24 triliun (BVPS Rp28,34), harga rights issue diperkirakan Rp40–Rp50 per saham. Dengan rentang tersebut, dana yang dihimpun sekitar Rp1 triliun–Rp1,25 triliun, dan harga teoritis pasca rights issue sekitar Rp335 per saham, berpotensi turun hingga 32 persen.
Penggunaan dana: 80 persen akan disalurkan ke anak usaha PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) untuk membeli armada bus dan truk listrik dari VKTR pada 2026–2027 guna memperkuat bisnis penyewaan kendaraan listrik (e-MaaS). Sisanya 20 persen untuk modal kerja.
Catatan penting, VKTR tidak memiliki pembeli siaga dan free float mencapai 61,19 persen. Jika ada sisa saham yang tidak ditebus, saham tersebut tidak akan diterbitkan. Dengan demikian, rights issue ini bergantung penuh pada partisipasi investor ritel.
ENRG: Dukungan Pembeli Siaga, Target Eksplorasi Migas
ENRG akan melaksanakan rights issue dengan cum date pada 13 Agustus 2026. Perseroan menerbitkan hingga 13,28 miliar saham baru Seri B dengan rasio 2:1 (setiap 2 saham lama berhak atas 1 HMETD). Harga pelaksanaan Rp310 per saham, berpotensi menghimpun dana hingga Rp4,12 triliun.
Sebanyak 96,59 persen dana akan digunakan untuk penyertaan modal ke anak usaha guna memperkuat kegiatan eksplorasi dan produksi migas. Sisanya 3,41 persen untuk modal kerja dan biaya operasional.
Pembeli siaga dalam rights issue ini adalah PT Bakrie Kalila Investment (BKI), afiliasi Grup Bakrie. Pemegang saham pengendali, PT Shima Global Kapital, akan mengalihkan seluruh haknya (sekitar 2,33 miliar HMETD) kepada BKI. BKI bersama afiliasinya siap menyerap sisa saham hingga 10,48 miliar lembar. Sebelum rights issue, BKI hanya memiliki 3,56 persen; setelahnya diperkirakan naik menjadi 9,41 persen. Sementara porsi Shima turun dari 17,7 persen menjadi sekitar 11,7 persen, namun tetap menjadi pemegang saham terbesar.
Dengan asumsi harga sebelum cum date Rp1.000 per saham, harga teoritis pasca rights issue diperkirakan Rp700 per saham, berpotensi turun 33,33 persen. Meski ada pembeli siaga, dilusi tetap material dan harga saham berpotensi turun karena penambahan suplai besar. Sektor migas juga sensitif terhadap harga minyak dunia dan regulasi.
Dari ketiga emiten, rights issue ENRG memiliki risiko lebih terkendali berkat adanya pembeli siaga, sementara VKTR paling bergantung pada partisipasi pasar. BNBR dengan pembeli siaga dan tujuan pelunasan utang berada di posisi moderat.





















Tinggalkan Balasan