Media Kampung – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di beberapa daerah Indonesia mengalami penurunan tajam pada Mei 2026. Kondisi ini paling parah terjadi di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, di mana harga TBS jatuh di bawah Rp3.000 per kilogram, jauh di bawah ketetapan harga pemerintah provinsi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, menyatakan bahwa harga beli TBS di daerahnya kini berkisar antara Rp2.400 hingga Rp2.600 per kilogram, padahal harga ideal yang telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi adalah sekitar Rp3.400 per kilogram. Perbedaan harga yang signifikan tersebut menyebabkan tekanan keuangan yang berat bagi petani sawit setempat, terutama dengan meningkatnya biaya produksi dan harga pupuk nonsubsidi.

Hari menegaskan bahwa pihaknya akan segera membawa bukti penurunan harga ini ke forum tingkat provinsi untuk mendapatkan perhatian lebih lanjut. Pengawasan di area loading ramp pabrik kelapa sawit di Mukomuko juga akan diperketat guna memastikan korporasi mematuhi ketentuan harga yang berlaku.

Sementara itu, di Provinsi Riau, harga TBS kelapa sawit untuk mitra plasma juga mengalami penurunan. Dinas Perkebunan Riau melaporkan bahwa harga pembelian TBS untuk kelompok umur tanam 9 tahun turun sebesar Rp33,56 per kilogram menjadi Rp3.866,90 per kilogram untuk periode 20 hingga 26 Mei 2026. Penurunan ini mengikuti turunnya harga minyak sawit mentah (CPO) dan kernel di pasar global.

Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, menjelaskan bahwa penurunan harga TBS ini dipengaruhi oleh kondisi pasar minyak sawit yang sedang melemah. Beberapa pabrik kelapa sawit juga sempat tidak melakukan aktivitas penjualan sehingga tim penetapan harga menggunakan harga rata-rata pasar untuk menentukan harga TBS minggu ini.

Harga CPO di bursa berjangka Malaysia pada Rabu, 20 Mei 2026, tercatat sebesar MYR 4.556 per ton, turun 0,59% dari hari sebelumnya. Meskipun demikian, harga CPO secara tahunan dan year to date masih menunjukkan kenaikan masing-masing sebesar 17% dan 14,16%. Di pasar domestik Medan, harga minyak sawit sempat mencapai Rp20.339 per kilogram pada 19 Mei 2026, namun harga minyak goreng bermerek di beberapa wilayah seperti Papua dan Bangka Belitung masih tinggi, mencapai lebih dari Rp25.000 per kilogram.

Penurunan harga sawit ini menjadi perhatian serius karena kelapa sawit merupakan komoditas utama yang menopang perekonomian berbagai daerah. Pemerintah dan pemangku kepentingan diminta untuk mengawasi dan menyeimbangkan harga agar kesejahteraan petani tetap terjaga, terutama di tengah fluktuasi pasar global yang mempengaruhi harga minyak sawit.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.