Media Kampung, Sumenep – Rezeki dalam pandangan Islam tidak hanya dimaknai sebagai harta atau kekayaan materi. Lebih dari itu, rezeki mencakup berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT, mulai dari kesehatan, keluarga yang baik, hingga rida-Nya. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Ustadz Romaiki Hafni, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sumenep, Rabu 8 Juli 2026.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap rezeki hanya sebatas uang, jabatan, atau status sosial. Padahal, Islam mengajarkan bahwa makna rezeki jauh lebih luas dan menjadi bagian dari nikmat yang harus disyukuri. “Rezeki mencakup kesehatan, kesempatan beramal saleh, keluarga yang baik, hingga lingkungan yang kondusif,” ujar Romaiki.
Dalam pemaparannya, Romaiki mengutip pandangan Syekh Muhammad Muttawalli Assyarawi yang membagi rezeki ke dalam empat tingkatan. Tingkatan pertama adalah al-mal atau harta kekayaan. Menurutnya, harta merupakan tingkatan rezeki yang paling rendah di sisi Allah SWT karena hanya berfungsi sebagai sarana untuk beribadah dan memenuhi kebutuhan hidup, bukan tujuan utama kehidupan. Ia mengingatkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta dapat menjerumuskan seseorang pada sikap sombong, serakah, dan tamak sehingga menjauhkan diri dari nilai-nilai keimanan.
Tingkatan kedua adalah walafiyah, yakni nikmat kesehatan lahir dan batin. Romaiki menegaskan bahwa kesehatan merupakan karunia yang sangat berharga karena tanpa kondisi tubuh yang baik, seseorang akan kesulitan menjalankan aktivitas maupun beribadah. “Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, kesehatan dan kesempatan adalah dua nikmat yang paling sering dilalaikan manusia, sehingga bagi siapa saja yang masih memilikinya diimbau untuk segera menggunakannya demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” katanya.
Sementara itu, tingkatan ketiga adalah memiliki anak-anak yang saleh dan salehah. Menurutnya, keturunan yang taat kepada Allah SWT merupakan investasi terbaik bagi orang tua karena doa dan amal baik mereka akan terus mengalir sebagai pahala, bahkan setelah orang tua meninggal dunia. Romaiki menilai ukuran kesuksesan tidak semestinya hanya didasarkan pada pencapaian materi. Keluarga yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai keislaman merupakan salah satu bentuk rezeki yang sangat besar.
Adapun tingkatan rezeki yang paling tinggi adalah waridu rabbil alamin, yakni memperoleh rida Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa seluruh nikmat berupa harta, kesehatan, maupun keluarga tidak akan bernilai tanpa rida Allah yang diraih melalui ketakwaan, amal saleh, serta bakti kepada kedua orang tua. Melalui pemahaman tersebut, Romaiki berharap umat Islam tidak hanya berfokus mengejar kekayaan materi, tetapi juga berusaha meraih rezeki yang lebih utama berupa kesehatan, keluarga yang saleh, dan puncaknya memperoleh rida Allah SWT.





















Tinggalkan Balasan