Media Kampung – Program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya pada Senin, 29 Juni 2026 mengangkat tema Keluarga yang Terencana sebagai upaya mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Narasumber, Sri Safaati, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karangpilang Kementerian Agama Kota Surabaya, menekankan bahwa keluarga yang kuat dibangun melalui perencanaan yang matang, dimulai sejak persiapan menuju pernikahan.

Perencanaan Keluarga Dimulai Sebelum Menikah

Menurut Sri Safaati, perencanaan keluarga tidak hanya dilakukan setelah menikah, tetapi juga dimulai sejak persiapan menuju pernikahan. “Keluarga yang terencana adalah keluarga yang dibangun melalui persiapan yang baik sebelum maupun sesudah menikah, meliputi kesiapan agama, mental, fisik, ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan anak,” ujarnya. Islam mengajarkan pentingnya merencanakan masa depan, termasuk kehidupan rumah tangga, selaras dengan pesan Al-Quran agar setiap manusia mempersiapkan bekal terbaik untuk hari esok.

Pilar-Pilar Keluarga Terencana

Dalam pemaparannya, Sri Safaati menyebutkan sejumlah pilar penting keluarga yang terencana, yaitu:

  • Memperkuat iman dan takwa
  • Mengelola ekonomi keluarga secara bijak
  • Merencanakan pendidikan anak
  • Menjaga kesehatan
  • Membangun komunikasi yang sehat

Ia menilai rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi madrasah pertama bagi anak. “Keluarga hendaknya membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Quran, berdoa bersama, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Rumah yang dibangun di atas keimanan akan lebih kuat menghadapi berbagai ujian,” katanya.

Pandangan Islam tentang Pengaturan Jarak Kelahiran

Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai pengaturan jarak kelahiran, Sri Safaati menegaskan bahwa Islam tidak melarang perencanaan kehamilan selama bertujuan menjaga kesehatan ibu dan anak. Pengaturan jarak kelahiran bukan untuk membatasi rezeki, melainkan agar orang tua mampu memberikan perhatian, pendidikan, dan pengasuhan yang optimal kepada setiap anak.

Tantangan Keluarga Masa Kini

Sri Safaati juga menyoroti berbagai tantangan keluarga masa kini, mulai dari pengaruh media sosial, penyalahgunaan narkoba, judi daring, hingga pinjaman daring. Menurutnya, keluarga harus menjadi benteng utama melalui komunikasi yang terbuka, musyawarah, pemahaman hak dan kewajiban, serta penguatan nilai-nilai ibadah di dalam rumah.

Ajakan untuk Orang Tua

Sebagai penutup, Sri Safaati mengajak para orang tua untuk terus belajar menjadi pasangan dan orang tua yang lebih baik serta tidak berhenti memohon pertolongan Allah dalam membangun rumah tangga. “Orang tua memiliki peran besar membangun keluarga yang terencana dengan menjadi teladan, menjaga komunikasi, membiasakan musyawarah, dan menanamkan nilai agama sejak dini kepada anak-anak,” tuturnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.