Media Kampung – Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir memaksa banyak orang beradaptasi, termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di sana. Anton Alifandi (59) di London, Inggris, memilih tidur dengan seluruh jendela dan pintu rumah terbuka agar udara tetap mengalir. Sementara Dandi Yuda (23) di Jenewa, Swiss, lebih sering berenang di danau dan bahkan ‘kabur’ ke Slovenia untuk menghindari suhu yang terasa mencapai 40 derajat Celsius.

Rumah Tanpa AC di Tengah Panas Ekstrem

Anton, yang telah tinggal di London selama 33 tahun, mengatakan suhu di ibu kota Inggris sempat menyentuh pertengahan 30 derajat Celsius. Menurutnya, ini menjadi persoalan karena sebagian besar rumah di Inggris dibangun untuk menyimpan panas, bukan untuk cuaca panas. Rumahnya yang dibangun tahun 1937 tidak dilengkapi pendingin ruangan.

“Hari Kamis saya kerja dari rumah, rasanya susah sekali konsentrasi karena panas. Besoknya saya memilih kerja di kantor karena ada AC,” kata Anton kepada kumparan, Senin (29/6). Ia menambahkan, kini semakin banyak warga Inggris mulai mempertimbangkan memasang AC. “Di grup lingkungan tempat saya tinggal banyak yang mulai bertanya bagaimana cara pasang AC yang cepat dan murah tanpa merusak rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Dandi mengatakan penggunaan AC permanen di Swiss tidak dilarang, tetapi proses perizinannya rumit. “Kalau mau pasang AC harus urus izin. Ditanya sumber energinya apa, berisik atau enggak, sampai dampaknya ke lingkungan,” kata Dandi. Dalam beberapa kasus, pemasangan AC bahkan memerlukan alasan medis berupa surat dokter. Selain itu, banyak penghuni apartemen merupakan penyewa sehingga tidak diperbolehkan mengubah struktur bangunan.

Aktivitas Tetap Berjalan, Meski Ada Penyesuaian

Meski suhu melonjak, aktivitas masyarakat di Inggris dan Swiss umumnya tetap normal. Anton mengatakan jam kerja kantoran tidak berubah, meski sebagian layanan transportasi dan sekolah sempat terdampak. “Sebagian jalur kereta sempat dihentikan sementara dan ada beberapa sekolah dasar yang tutup,” katanya. Operator transportasi London rutin mengingatkan masyarakat agar menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas.

Di Swiss, Dandi merasakan hal serupa. Sebagian besar kantor tetap beroperasi, namun ada perusahaan yang menerapkan jam kerja lebih singkat atau work from home. Pemerintah dan media setempat terus mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat suhu mencapai puncaknya.

Cara Mendinginkan Diri: Buka Jendela hingga Berenang di Danau

Saat suhu mulai tak tertahankan, Anton memilih membuka seluruh pintu dan jendela rumah setiap tidur. Menurutnya, cara itu cukup membantu karena Inggris hampir tidak memiliki masalah nyamuk. “Kalau di Jakarta mungkin pintu dibuka nyamuk masuk. Untungnya di sini anginnya masuk tanpa nyamuk,” ujarnya.

Dandi lebih sering menghabiskan waktu di danau. “Keseharian ya stay di dalam rumah, minum banyak, sama renang di danau, biasanya ke Plage des Eaux-Vives,” katanya. Saat diwawancarai pada Minggu (28/6), Dandi bahkan sedang berada di Danau Bled, Slovenia. “Aku lagi escape ke Slovenia. Panas juga, tapi at least enggak sepanas Jenewa,” ujarnya. Suhu di Jenewa sempat mencapai 38 derajat Celsius dengan suhu terasa sekitar 40 derajat.

Panas di Eropa Berbeda dengan Indonesia

Baik Anton maupun Dandi menilai panas di Eropa memiliki karakter berbeda dibanding Indonesia. Anton mengungkap warga Inggris sudah menganggap suhu 20 derajat Celsius pada pagi hari sebagai cuaca panas. Sementara Dandi, yang berasal dari Surabaya, menyebut suhu di Eropa memang mirip dengan kampung halamannya, tetapi udaranya lebih kering. “Panasnya tuh sebenernya sama, tapi di Eropa (udaranya) kering, jadi panasnya benar-benar nyakitin kulit. Naruh air di tangan aja langsung kering,” katanya. “Kalau di Indonesia masih kebantu karena udaranya lembap.”

Gelombang panas kini mulai mereda, tetapi prakiraan cuaca menunjukkan suhu tinggi masih berpotensi kembali dalam beberapa hari ke depan. Anton dan Dandi tetap bersiap menghadapi cuaca ekstrem berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.