Media Kampung – Kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) mengonfirmasi bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026. Dalam studi terbaru mereka, para peneliti menyatakan bahwa suhu setinggi yang tercatat bulan ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat ulah manusia.

Peneliti utama Theodore Keeping menegaskan bahwa dunia saat ini lebih panas 1,4 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Kenaikan suhu ini dipicu oleh pembakaran batu bara, minyak, dan gas. “Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim,” ujar Keeping seperti dikutip Reuters, Jumat (26/6/2026).

Studi WWA membandingkan suhu saat ini dengan data historis. Mereka menemukan bahwa gelombang panas serupa pada Juni 1976 akan 3,5 derajat Celsius lebih dingin pada siang hari. Artinya, intensitas panas ekstrem sekarang jauh lebih tinggi karena perubahan iklim.

Ilmuwan Friederike Otto menjelaskan bahwa pola cuaca yang memicu gelombang panas sebenarnya tidak luar biasa. Namun, suhu yang dihasilkan sangat ekstrem. “Pola cuaca itu sendiri tidak terlalu luar biasa, tetapi suhunya yang luar biasa,” kata Otto.

Otto juga memperingatkan bahaya heat stress atau paparan panas berlebih. Kondisi ini terjadi ketika sistem pendingin alami tubuh tidak mampu mengimbangi panas yang diterima, ditandai dengan pusing, sakit kepala, hingga gagal organ dan kematian. “Hal ini membuat paparan panas berlebih sangat tidak menyenangkan dan berbahaya,” tambahnya.

Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat. Laporan terbaru menunjukkan jutaan orang terdampak suhu ekstrem setelah sejumlah negara memecahkan rekor suhu tertinggi. Para ilmuwan menekankan pentingnya membatasi penyebab perubahan iklim untuk menghindari dampak yang lebih buruk di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.