Media Kampung – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kabupaten Lamongan dalam dua bulan terakhir membuat nelayan setempat mengurangi aktivitas melaut. Gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras menjadi ancaman keselamatan yang signifikan.
Sekretaris DPC HNSI Lamongan, Makmud Murod, mengungkapkan bahwa dalam sepekan, kondisi laut tidak bersahabat bisa terjadi hingga tiga kali. Gelombang mencapai 1,5 meter dan angin kencang membuat nelayan memilih tidak melaut.
Akibatnya, pendapatan nelayan menurun drastis. Jika biasanya mereka bisa melaut hampir setiap hari, kini hanya dua hingga tiga hari dalam sepekan. Hasil tangkapan ikan pun berkurang, berdampak pada perekonomian keluarga.
Makmud juga menyoroti pentingnya pembangunan breakwater atau pemecah gelombang di kawasan pesisir serta perbaikan fasilitas sandar kapal. Infrastruktur itu diharapkan memberikan perlindungan lebih baik saat kapal keluar-masuk pelabuhan.
“Kami berharap ada pembangunan penangkis gelombang dan perbaikan fasilitas pelabuhan. Dengan begitu, ketika cuaca tidak terlalu ekstrem, nelayan masih memiliki kesempatan melaut dengan lebih aman,” kata Makmud.
HNSI Lamongan berharap perhatian pemerintah terhadap infrastruktur pesisir dapat meminimalkan dampak cuaca ekstrem yang kerap melanda, sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan