Media Kampung – Badang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diproyeksikan terjadi pada Selasa, 28 April 2026. Peringatan tersebut mencakup wilayah luas mulai dari Jawa Barat hingga Maluku, dengan ancaman hujan lebat, petir, dan angin kencang.

Data satelit terbaru menunjukkan adanya peningkatan kelembapan atmosfer di sebagian besar pulau Indonesia, memperkuat potensi pembentukan awan konvektif intensif. Kondisi ini diperkirakan menghasilkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

BMKG menyoroti provinsi Jawa Barat, Banten, serta Jawa Tengah sebagai zona waspada tinggi karena potensi hujan deras disertai kilat. Kabupaten Cianjur dan Garut diprediksi menjadi titik konsentrasi hujan lebat.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), lembaga tersebut menambahkan peringatan tambahan terkait angin kencang yang dapat menyertai hujan lebat. Kecepatan angin diproyeksikan mencapai 30-45 kilometer per jam pada sore hari.

Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) juga masuk dalam daftar zona peringatan, meskipun intensitas hujan diperkirakan sedikit lebih ringan dibandingkan NTB. Namun, potensi badai tropis tetap menjadi perhatian.

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) di Mataram, dinamika atmosfer yang meliputi gelombang Rossby ekuatorial dan Madden‑Julian Oscillation (MJO) memperparah kondisi cuaca. “Kami mengidentifikasi perkembangan signifikan dalam dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan,” ujarnya.

Pertemuan zona konvergensi dan perlambatan aliran angin di atas laut Indonesia memicu pertumbuhan awan kumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan lebat dalam waktu singkat. Fenomena ini meningkatkan risiko banjir bandang di daerah dataran rendah.

BMKG mengingatkan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai atau lereng berbukit untuk selalu memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi Info BMKG atau situs resmi bmkg.go.id. Saluran drainase harus dipastikan tidak tersumbat.

Penggunaan istilah “hujan lebat” dalam peringatan merujuk pada curah hujan lebih dari 50 milimeter per jam, sementara “hujan sangat lebat” mengacu pada lebih dari 75 milimeter per jam. Angka tersebut dapat menyebabkan genangan air yang mengancam rumah warga.

Di Pulau Bali, khususnya Kabupaten Jembrana, BMKG memprediksi hujan petir dengan suhu berkisar 23–28°C dan kelembapan mencapai 98%. Warga diminta menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hingga sore hari.

Kabupaten Tabanan diperkirakan mengalami hujan ringan dengan suhu 22–27°C, namun kelembapan tinggi dapat menyebabkan jalan licin. Pengendara diimbau menurunkan kecepatan dan menjaga jarak aman.

Wilayah Badung dan Gianyar diproyeksikan berawan dengan suhu 23–31°C serta kelembapan 73–98%, menandakan potensi pembentukan awan hujan mendadak. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat.

BMKG juga menyoroti potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di perairan selatan NTB, khususnya Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas, dan Samudra Hindia. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan perikanan.

Untuk mengantisipasi bahaya banjir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di beberapa provinsi telah menyiapkan posko darurat dan memobilisasi tim SAR. Koordinasi dengan TNI dan Polri juga telah diaktifkan.

Para petugas lapangan di Kabupaten Cianjur melaporkan pembersihan material lumpur dan pohon tumbang akibat hujan lebat pada akhir pekan sebelumnya. Upaya tersebut bertujuan memulihkan akses jalan utama.

Data historis menunjukkan bahwa bulan April sering menjadi periode transisi antara musim hujan dan kemarau, meningkatkan volatilitas cuaca di wilayah Indonesia. Fenomena ini memperkuat urgensi peringatan BMKG.

Para ahli klimatologi menambahkan bahwa perubahan iklim dapat memperpanjang durasi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, termasuk hujan deras dan badai tropis. Mereka menekankan pentingnya mitigasi dan adaptasi.

Dalam pernyataan resmi, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama di daerah rawan tanah longsor. “Pastikan saluran air berfungsi dengan baik dan hindari berteduh di bawah pohon besar saat terjadi hujan disertai angin kencang,” kata pihak BMKG.

Penggunaan sistem peringatan dini berbasis teknologi satelit dan radar cuaca memungkinkan deteksi awal fenomena berbahaya. Informasi ini disebarkan melalui media sosial, SMS, dan radio komunitas.

Beberapa universitas di Jawa Barat dan Bali turut berpartisipasi dalam pemantauan cuaca dengan menyediakan data pengukuran lapangan secara real-time. Kolaborasi ini memperkaya basis data BMKG.

Kawasan perkotaan seperti Bandung, Surabaya, dan Makassar diperkirakan akan mengalami gangguan lalu lintas akibat genangan air. Pihak kepolisian telah menyiapkan rambu peringatan di titik rawan.

Di wilayah Sumatra, meskipun curah hujan tidak setinggi di Jawa, potensi banjir tetap ada karena kondisi tanah yang mudah jenuh. Daerah seperti Padang dan Pekanbaru diminta meningkatkan kewaspadaan.

Untuk sektor pertanian, BMKG memperingatkan risiko kerusakan tanaman akibat hujan lebat yang dapat menyebabkan erosi tanah. Petani disarankan menyiapkan terasering dan penahan air.

Industri perikanan di perairan selatan NTB diharapkan menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal agar terhindar dari gelombang tinggi. Pihak pelabuhan telah mengumumkan pembatasan operasional bila tinggi gelombang melebihi ambang batas.

BMKG menegaskan bahwa peringatan ini bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan atmosfer. Masyarakat diimbau untuk memeriksa pembaruan secara berkala.

Keseluruhan, cuaca ekstrem pada 28 April 2026 menuntut koordinasi lintas sektor, kesiapsiagaan warga, serta respons cepat dari lembaga penanggulangan bencana. Upaya bersama diharapkan meminimalisir dampak yang mungkin terjadi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.