Media Kampung, Universitas Brawijaya (UB) berencana memperketat sistem keamanan di lingkungan kampus menyusul dugaan kasus pencurian sepeda milik mahasiswa yang sempat viral di media sosial. Langkah ini mencakup evaluasi akses keluar-masuk kendaraan, optimalisasi pemantauan CCTV, hingga pengetatan identifikasi setiap pengendara yang memasuki kawasan kampus.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Tri Wahyu Nugroho, mengungkapkan pihaknya masih mempelajari laporan terkait dugaan hilangnya sepeda tersebut. Meski demikian, UB memastikan akan segera melakukan evaluasi untuk meningkatkan keamanan. “Nanti saya pelajari dulu karena saya belum menerima laporan lengkapnya. Tetapi setelah ini tentu akan kami perketat sistem keamanannya,” tegasnya, Senin (6/7/2026).
Tri menjelaskan, UB selama ini terus menambah jumlah kamera pengawas (CCTV) yang dipasang di berbagai titik strategis kampus, termasuk area parkir. Seluruh kamera tersebut dapat dipantau secara langsung untuk memudahkan pengawasan aktivitas. “Kami terus menambah CCTV. Saat ini berbagai titik, termasuk area parkir, sudah dipantau secara langsung sehingga aktivitas di kampus bisa dimonitor,” katanya sambil menunjukkan pemantauan CCTV di telepon selulernya.
Selain memperkuat pemantauan, UB menyiapkan sejumlah opsi untuk meningkatkan keamanan akses keluar-masuk kampus. Salah satunya mewajibkan seluruh pengendara membuka helm atau penutup wajah saat memasuki area kampus agar identitas mereka terekam jelas oleh kamera pengawas. Menurut Tri, kebijakan ini diterapkan sebagai langkah antisipasi karena beberapa kasus kehilangan sebelumnya diduga melibatkan pelaku yang menutupi identitas. “Semua pengendara nantinya diminta membuka helm atau penutup wajah saat masuk sehingga wajahnya bisa terekam. Kalau wajah tidak terdeteksi, akan sulit melakukan identifikasi ketika terjadi sesuatu,” jelasnya.
Pengetatan juga akan difokuskan pada pintu keluar kampus. Selama ini pemeriksaan di pintu masuk dinilai berpotensi menimbulkan antrean panjang, sehingga evaluasi diarahkan agar proses pengawasan lebih efektif tanpa mengganggu kelancaran lalu lintas di dalam kampus.
UB juga tengah mengkaji penerapan sistem akses yang berbeda bagi sivitas akademika dan masyarakat umum. Sivitas nantinya tetap menggunakan kartu identitas kampus sebagai akses masuk, sedangkan bagi pengunjung atau non-sivitas terdapat opsi penerapan sistem berbayar. “Tujuannya bukan mencari pemasukan, tetapi yang ingin kami pastikan adalah keamanan. Ketika seseorang masuk ke kawasan kampus, tanggung jawab keamanannya ada pada kami. Karena itu, kami sedang mencari opsi terbaik agar kejadian-kejadian seperti ini bisa diminimalkan,” tandasnya.
UB memastikan seluruh kebijakan yang akan diterapkan masih dalam tahap evaluasi dan akan disesuaikan dengan kebutuhan keamanan serta kenyamanan sivitas akademika maupun masyarakat yang beraktivitas di lingkungan kampus.






















Tinggalkan Balasan