Media Kampung – Kata-kata seperti “Kamu memang bodoh ya”, “Diam, jangan cerewet”, atau “Coba lihat anak tetangga” sering dianggap remeh oleh orang tua. Padahal, bagi anak, kalimat itu bisa menancap lebih dalam dari luka fisik. Inilah kekerasan verbal: tindakan menyakiti anak lewat kata-kata tanpa sentuhan fisik.

Data Kekerasan Verbal di Indonesia

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang dirilis Kemen PPPA mengungkapkan fakta mengejutkan: kekerasan emosional, termasuk verbal, menjadi bentuk kekerasan paling banyak dialami anak usia 13-17 tahun. Hampir 45 dari 100 anak pernah mengalaminya seumur hidup, dan 30 dari 100 anak masih mengalaminya dalam setahun terakhir. Angka ini naik dibanding 2021, sementara kekerasan fisik menurun.

Data Kemen PPPA 2025 mencatat total 18.123 anak menjadi korban kekerasan, mayoritas perempuan. Di sekolah, kasus kekerasan melonjak dari 285 (2023) menjadi 573 (2024), sepertiganya terkait perundungan.

Dampak pada Perkembangan Anak

Penelitian di Indonesia, termasuk studi di Bali, menunjukkan hubungan antara kekerasan verbal orang tua dengan terhambatnya perkembangan kognitif anak. Anak sulit berpikir jernih, kurang percaya diri, dan cenderung meniru pola agresif. WHO mencatat kekerasan emosional masa kanak-kanak meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat di kemudian hari.

Mengapa Orang Tua Melakukannya?

Banyak orang tua tidak bermaksud menyakiti. Kekerasan verbal sering muncul dari kelelahan, stres ekonomi, atau pola asuh yang diwariskan. Sebagian menganggap bentakan sebagai cara mendisiplinkan, padahal anak hanya menurut karena takut, bukan paham kesalahan.

Langkah Menghentikan Siklus

  • Kenali emosi: Beri jeda sebelum bicara saat marah.
  • Tanya sebelum menghakimi: Pahami alasan anak sebelum melabel.
  • Fokus pada perilaku: Kritik tindakan, bukan pribadi anak.
  • Minta maaf: Jika terlanjur menyakiti, permintaan maaf tulus mengajarkan perbaikan.
  • Cari dukungan: Komunitas parenting atau psikolog dapat membantu pola asuh sehat.

Kekerasan verbal meninggalkan luka tak kasatmata yang membekas lama. Setiap usaha sadar memilih kata adalah langkah nyata agar anak Indonesia tumbuh dengan rasa aman, bukan rasa takut.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.