Media Kampung – Madiun – Psikolog anak dan dosen psikologi, Robik Anwar Dani, M.Psi., menekankan pentingnya memberikan ruang berduka bagi anak yang gagal masuk kampus impian. Menurutnya, kegagalan tersebut memicu fase kedukaan mendalam karena hilangnya bayangan masa depan yang telah mereka susun.
Robik yang juga dosen di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun menjelaskan bahwa momen ini tidak hanya melukai ego anak yang sedang bertransisi menuju dewasa awal, tetapi juga sering mencederai ego orang tua.
Kesalahan Umum Orang Tua
Robik mengungkapkan kekeliruan terbesar yang kerap dilakukan orang tua adalah langsung melompat ke tahap penyelesaian masalah. Ketika anak terpukul, orang tua cenderung buru-buru memberikan arahan tanpa ruang diskusi.
“Orang tua sering mengarahkan anak untuk mendaftar ke kampus swasta atau menyuruh bersiap mencoba lagi tahun depan, tetapi tanpa merangkul atau memvalidasi emosi anak terlebih dahulu,” ujarnya kepada RRI Madiun.
Validasi Emosi Itu Penting
Pada fase ini, anak secara psikologis mengalami grief atas hilangnya ekspektasi masa depan. Mereka ingin kuliah di kampus pilihan, dan ketika itu hilang, ada rasa kehilangan yang nyata. Robik mengingatkan orang tua untuk menghindari jebakan toxic positivity, seperti kalimat “ambil saja hikmahnya” secara instan. Alih-alih menenangkan, kalimat tersebut justru menyumbat emosi negatif yang harus dikeluarkan.
Tugas pertama orang tua adalah menjadi wadah atau tangki penampung emosi bagi anak. Orang tua perlu menyediakan ruang aman agar anak dapat menjalani fase berduka secara sehat. Validasi emosi dilakukan dengan membiarkan anak menangis atau mengekspresikan kekecewaannya.
Jangan Terburu-buru Menasihati
Pada tahap awal, orang tua sangat dilarang terburu-buru memberi nasihat atau menceramahi anak yang sedang rapuh. Dengan pendekatan yang tepat, fase kedukaan ini dapat dilewati tanpa meninggalkan trauma psikologis.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan