Media Kampung – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa proyek baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi antara Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), yang dikenal dengan Proyek Dragon, telah mengajukan fasilitas tax holiday. Pemerintah masih membahas pengajuan insentif fiskal tersebut bersama Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan.
Pembahasan Masih Berlangsung
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, mengatakan bahwa pembahasan mengenai tax holiday Proyek Dragon masih berlangsung dan dalam proses harmonisasi dengan Kementerian Investasi/BKPM. “Masalah tax holiday yang diajukan oleh Proyek Dragon. Yang di Karawang itu, (rapat) mengenai itu. Mengenai interpretasi atas keputusan Menteri Keuangan terkait dengan tax holiday kan ada beberapa perubahan,” jelasnya di kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/7/2026).
Erani menambahkan bahwa perlu ada keselarasan sudut pandang antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Keuangan. “Ini menyangkut penggunaan tahun, itu perlu ada kesepahaman antara DJP, dengan BKPM, dengan ESDM, untuk memastikan apakah Proyek Dragon tadi itu, CATL, beberapa joint venture-nya itu bisa memperoleh fasilitas tersebut,” tuturnya.
Rapat Koordinasi Antarinstansi
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung telah mengadakan rapat koordinasi dengan Dirjen Pajak Bimo Wijayanto dan Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis untuk membahas pengaturan insentif perpajakan bagi proyek hilirisasi di sektor energi. “Langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif, mempercepat pengembangan industri hilir, serta mendukung peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan ketahanan energi nasional,” katanya dalam unggahan Instagram resmi @tanjungyuliot.
Proyek Dragon Siap Beroperasi Juli 2026
Pabrik baterai listrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, akan segera beroperasi pada Juli 2026 dan kemungkinan diresmikan Presiden Prabowo Subianto. Saat ini persiapannya sudah mencapai 90 persen. “Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan,” kata Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif dalam acara Mind Club di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 6,9 GWh pada tahap pertama, yang terdiri dari baterai nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Tahap kedua akan dibangun dengan kapasitas 8,1 GWh. Di tahap kedua inilah rencana ekspor dilakukan, namun opsional karena harus mencari pembeli (offtaker). Total investasi proyek ini mencapai USD 1,1 miliar.
Target Pasar Ekspor
IBC membidik pasar ekspor untuk baterai NMC ke Eropa, terutama Jerman. Langkah itu dilakukan karena permintaan baterai berbasis nikel dinilai masih lebih banyak berasal dari kawasan tersebut. Selain untuk kendaraan listrik, baterai LFP produksi IBC juga akan digunakan untuk battery energy storage system (BESS), termasuk penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). IBC juga telah mengantongi calon pembeli untuk baterai LFP tersebut, salah satunya dari Jepang.
Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui insentif fiskal seperti tax holiday, guna mendorong hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.






















Tinggalkan Balasan