Media Kampung – Microsoft dikabarkan tengah mengevaluasi model kecerdasan buatan (AI) asal China, Kimi K3, untuk digunakan pada layanan Copilot. Langkah ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan Microsoft terhadap model AI dari OpenAI dan Anthropic, sekaligus berpotensi menghemat biaya operasional hingga 600 juta dolar AS (sekitar Rp 10,73 triliun).
Kimi K3 merupakan model AI open source yang dikembangkan oleh startup Moonshot asal China. Menurut laporan Wccftech yang dikutip KompasTekno, efisiensi biaya inferensi menjadi salah satu daya tarik utama Kimi K3. Perhitungan internal Microsoft menunjukkan bahwa penggunaan Kimi K3 dapat menghemat biaya hingga 600 juta dolar AS per tahun.
Rencana ini muncul di tengah upaya Microsoft untuk mendiversifikasi sumber model AI yang mendukung Copilot. Selama ini, Microsoft sangat bergantung pada model dari OpenAI dan Anthropic. Jika adopsi Kimi K3 terealisasi, ini akan menjadi pertama kalinya Microsoft menggunakan model AI buatan China untuk produk unggulannya.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Microsoft sempat mempertimbangkan DeepSeek V4 atau model AI lain yang dihosting di infrastrukturnya sendiri untuk mendukung Copilot Cowork, layanan yang menggabungkan kemampuan Copilot dengan model AI dari OpenAI dan Anthropic untuk kebutuhan enterprise.
Langkah ini menunjukkan persaingan ketat di industri AI global, di mana efisiensi biaya dan kemandirian teknologi menjadi faktor kunci. Microsoft sendiri terus menggencarkan investasi AI, dengan belanja modal mencapai 190 miliar dolar AS untuk infrastruktur AI.
Kimi K3 sendiri baru dirilis dan langsung menarik perhatian pasar global. Jika diadopsi Microsoft, hal ini bisa menjadi terobosan besar bagi industri AI China yang selama ini berusaha menembus pasar global.














Tinggalkan Balasan