Media Kampung – Tiga mahasiswa Mikrobiologi Institut Teknologi Bandung berhasil meraih juara pertama pada ajang I-CHALLENGE 2026 di Universitas Brawijaya, Malang, dengan inovasi mengubah limbah batubara menjadi material baterai ramah lingkungan.

Tim yang terdiri atas Malika Fatima Lawe sebagai ketua, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia ini membawa solusi dalam kategori Industry Case Analysis Competition (I-CAC). Mereka memanfaatkan limbah padat batubara berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PT PLN Nusantara Power UP Paiton untuk menghasilkan anoda silikon-karbon berkapasitas tinggi serta lapisan keramik alpha-alumina yang digunakan pada baterai lithium-ion.

Inovasi dengan judul “FABA-Derived Silica and Alumina for Lithium-Ion Battery Anode and Separator Coating as a Renewable Energy Storage Solution in Indonesia” ini menawarkan teknologi manufaktur sirkular yang terintegrasi. Dengan pendekatan ini, tim SULE menyajikan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis dan aman secara termal, mendukung target nasional menuju Net Zero Emission pada 2060.

Dalam kompetisi yang mengangkat tema “Optimization of Green Process through Circular Resources towards Regenerative Future” ini, sekitar 300 tim mendaftar, namun hanya 10 tim yang lolos ke babak final. Pada proses presentasi dan tanya jawab di hadapan juri yang berasal dari akademisi dan praktisi industri, tim SULE berhasil menunjukkan keunggulan riset mereka. Malika Fatima Lawe pun mendapatkan penghargaan Best Presenter berkat kemampuannya mempertahankan argumen berdasarkan data yang mendalam.

Proses riset tim SULE melibatkan teknik direct alkaline leaching, sintesis anoda nano-silikon, dan ammonium sulfate roasting untuk mengekstrak silika dan alumina dari limbah FABA. Hasilnya, anoda yang dikembangkan mampu mencapai kapasitas hingga 1450,3 mAh per gram, sedangkan lapisan separator alpha-alumina mampu bertahan pada suhu hingga 200 derajat Celsius, jauh lebih baik dibandingkan material plastik konvensional.

Malika menjelaskan bahwa pemilihan topik ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mengatasi limbah industri hulu sekaligus mendukung kemandirian teknologi energi terbarukan di hilir. Kandungan silika dan alumina dalam FABA yang cukup tinggi membuka peluang menggantikan bahan impor yang selama ini digunakan dalam produksi baterai.

Dampak inovasi ini sangat luas, terutama bagi Indonesia. Dengan memanfaatkan limbah FABA, potensi pengurangan limbah hingga satu juta ton dari PLN NP bisa terwujud. Selain itu, teknologi ini dapat menurunkan emisi karbon tahunan hingga 52,46 persen serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku baterai hingga 100 persen. Teknologi baterai yang dihasilkan juga diharapkan meningkatkan akses listrik yang bersih, aman, dan terjangkau, khususnya di wilayah 3T yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Rufaida menambahkan, harapan mereka inovasi ini tidak hanya berhenti di tahap kompetisi, melainkan dapat berlanjut menjadi riset minimum viable product pada 2026 dan dikomersialisasikan pada 2027. Implementasi ini diharapkan dapat direalisasikan bersama PLN Nusantara Power dan Indonesia Battery Corporation sebagai solusi pengganti bahan impor yang bernilai tinggi.

Penghargaan juara pertama dan Best Presenter yang diraih oleh tim SULE menegaskan kualitas inovasi dan kemampuan mereka dalam menjawab tantangan industri kimia berkelanjutan. Prestasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi generasi muda dalam mendukung transformasi energi nasional melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.