Media Kampung – Penyanyi Danilla Riyadi merilis album terbaru bertajuk Candramawa, yang memaknai terang dan gelap kehidupan. Album ini lahir dari perenungan Danilla tentang dua kutub kehidupan yang saling melengkapi, seperti hitam dan putih yang menghasilkan gradasi abu-abu penuh makna.
Dalam tradisi Jawa, Candramawa merujuk pada perpaduan warna hitam dan putih pada bulu kucing yang dianggap istimewa. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, di mana candra berarti bulan dan mawa berarti membawa atau memancarkan. Dengan demikian, Candramawa dapat diartikan sebagai pembawa cahaya bulan, simbol ketenangan, kelembutan, dan keindahan yang samar namun memikat.
Bagi Danilla, filosofi tersebut sangat relevan dengan realitas kehidupan yang selalu berjalan di antara sukacita dan luka. “Setiap manusia memiliki beberapa sisi dalam dirinya—sisi yang murni, dan sisi yang terbentuk oleh berbagai variabel kehidupan. Dalam diri saya, kedua sisi itu terus saling menopang hingga tiba di titik lelah dan gelisah. Dari sana, saya sampai pada fase keberserahan—bukan menyerah, tapi legowo. Dan entah mengapa, semua itu terasa terwakili oleh kata ‘Candramawa’,” jelas Danilla.
Proses kreatif album Candramawa dimulai pada 2024 di Bantul, Yogyakarta. Di kawasan tersebut, lahir delapan lagu yang menghuni album ini. Dalam penggarapannya, Danilla kembali bekerja sama dengan dua kolaborator lamanya, Lafa Pratomo dan Otta Tarega. “Lafa itu ajaib. Setiap kata dan rasa bisa dia terjemahkan menjadi chord, nada, ritme, dan melodi—seolah musik punya bahasa resmi di tangannya. Lalu Otta melengkapi dengan nuansa yang tepat melalui keyboard dan synthesizer. Mereka benar-benar memahami apa yang ada di kepala saya,” ujar Danilla.
Album Candramawa tidak hanya menyuguhkan lanskap musik yang hangat, syahdu, dan melankolis, tetapi juga mengangkat berbagai perspektif manusia dalam menyikapi pasang surut kehidupan. Sejumlah musisi turut berkolaborasi, antara lain Bilal Indrajaya pada lagu “Prasangka”, mendiang Gusti Irwan Wibowo sebagai co-produser “Dasawarsa”, serta hara dan Sandrayati pada lagu penutup “Setitik”.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan