Media Kampung – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta, Riduwan, menegaskan bahwa ibadah haji harus menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi umat. Pernyataan itu disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada 24 April 2026.
Riduwan mengawali khutbah dengan doa untuk para jemaah haji Indonesia, kemudian menekankan bahwa haji bukan sekadar ritual pribadi melainkan sarana pemberdayaan masyarakat. Ia mencontohkan program pelatihan keterampilan yang telah diluncurkan oleh PWM untuk para jemaah setelah kembali.
Ia menambahkan bahwa zakat, infaq, dan shodaqoh yang dikumpulkan selama musim haji dapat diarahkan ke proyek infrastruktur pendidikan dan kesehatan di desa‑desa terpencil. Contoh nyata adalah pembangunan klinik desa di Kabupaten Sleman yang dibiayai sebagian dana haji tahun 2025.
Riduwan juga menyoroti pentingnya pelestarian nilai-nilai sosial, seperti gotong‑royong, yang harus terus dijaga oleh para jemaah setelah menunaikan ibadah. “Haji yang mabrur tidak hanya menyelesaikan kewajiban pribadi, melainkan harus membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Program pendampingan ekonomi yang dikelola PWM mencakup pelatihan manajemen keuangan, pemasaran digital, dan akses permodalan bagi usaha kecil yang dimiliki oleh jemaah. Hingga kini, lebih dari 3.500 jemaah telah mengikuti pelatihan tersebut.
Selain itu, PWM bekerja sama dengan lembaga keuangan syariah untuk menyediakan produk pembiayaan berbasis mudharabah bagi para jemaah yang ingin mengembangkan usaha. Kerjasama ini diharapkan meningkatkan inklusi keuangan di kalangan umat.
Riduwan menegaskan bahwa dampak ekonomi tidak boleh terpisah dari nilai moral dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa setiap keuntungan harus diiringi dengan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Dalam konteks nasional, pemerintah juga mendukung inisiatif tersebut melalui kebijakan insentif pajak bagi usaha yang dikelola oleh jemaah haji. Kebijakan ini diharapkan memperkuat sinergi antara sektor publik dan lembaga keagamaan.
Penguatan jaringan alumni haji menjadi faktor kunci untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman dan pengetahuan. PWM telah membentuk forum alumni di beberapa provinsi untuk memperluas dampak program.
Riduwan menutup khotbah dengan harapan agar setiap jemaah dapat kembali ke tanah air dengan semangat memperbaiki kondisi sosial‑ekonomi lingkungan sekitarnya. Ia mengajak seluruh umat untuk bersama‑sama mewujudkan haji yang berkontribusi pada kesejahteraan bersama.
Hingga saat ini, program-program pendampingan ekonomi dan sosial yang dirancang oleh PWM terus berjalan dengan evaluasi periodik. Laporan terbaru menunjukkan bahwa 78% jemaah yang mengikuti program melaporkan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Pembinaan berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi model bagi organisasi keagamaan lain dalam mengoptimalkan peran haji sebagai katalis pembangunan. Riduwan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan haji mabrur yang berdampak luas.
Dengan komitmen yang kuat, Muhammadiyah Yogyakarta bertekad menjadikan setiap haji sebagai sarana perubahan positif yang berkelanjutan bagi umat Islam di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan