Media Kampung – Khutbah Jumat Dzulqadah menekankan pentingnya perdamaian di bulan suci, mengingat umat Islam harus menjauhi pertikaian dan menyebarkan kasih secara luas.
Bulan Dzulqadah, termasuk dalam empat bulan haram, dipandang sebagai waktu yang diberkahi untuk meningkatkan amal serta memperkuat persaudaraan.
Imam Masjid Al‑Hikmah di Surabaya menyampaikan ceramah pada Jumat, 30 Dzulqadah 1445 H, yang bertepatan dengan 23 November 2024.
Ia menegaskan bahwa sikap damai bukan sekadar retorika, melainkan tindakan konkret dalam kehidupan sehari‑hari.
Imam menambahkan, “Marilah kita jadikan bulan ini sebagai sarana damai, bukan ajang perselisihan.”
Kata-kata tersebut diresapi oleh jamaah yang hadir, mayoritas berusia antara 20 hingga 60 tahun.
Survei internal Masjid Al‑Hikmah menunjukkan 78 % peserta merasa lebih termotivasi untuk menahan diri dari gosip dan fitnah.
Data tersebut sejalan dengan laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mencatat penurunan insiden kerusuhan pada bulan Dzulqadah tahun lalu.
BNPT melaporkan penurunan 12 % dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan efek positif kegiatan keagamaan.
Selain itu, tokoh masyarakat setempat, Bapak Ahmad Suryadi, menekankan pentingnya peran keluarga dalam menegakkan nilai damai.
Ia menyatakan, “Keluarga adalah mikro‑masyarakat pertama yang harus mengajarkan toleransi.”
Para ulama menegaskan, Dzulqadah juga menjadi persiapan menjelang Ramadan, sehingga semangat kebersamaan harus ditingkatkan.
Dalam konteks ekonomi, pedagang pasar tradisional di Kota Surabaya melaporkan peningkatan transaksi sebesar 15 % selama minggu Dzulqadah.
Hal ini dikaitkan dengan meningkatnya kepedulian sosial, yang mendorong konsumen berbelanja untuk keperluan ibadah.
Di bidang pendidikan, sekolah-sekolah Islam mengadakan lomba hafalan Al‑Qur’an untuk menumbuhkan semangat persatuan.
Hasil lomba menunjukkan partisipasi siswa meningkat 20 % dibandingkan tahun sebelumnya.
Kegiatan tersebut didukung oleh Kementerian Agama yang menyalurkan dana CSR sebesar Rp 5 miliar untuk program damai.
Program ini mencakup pelatihan mediasi bagi pemuka agama di 12 provinsi.
Ia menambahkan, “Dzulqadah memberi peluang bagi umat untuk memperbaiki hubungan antar‑umat.”
Pada akhir khotbah, imam mengajak jamaah untuk menunaikan shalat tarawih secara berjamaah sebagai wujud solidaritas.
Jamaah menanggapi ajakan tersebut dengan antusias, mengatur transportasi bersama untuk memudahkan kehadiran.
Sejumlah LSM yang bergerak di bidang perdamaian, seperti “Damai Bersama”, menggelar workshop resolusi konflik di beberapa masjid.
Workshop tersebut melibatkan lebih dari 200 peserta, mencakup pemuda, guru, dan tokoh agama.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan mediasi sebesar 30 % pada peserta.
Sementara itu, media sosial mencatat tren hashtag #DzulqadahDamai yang diikuti lebih dari 50 ribu posting.
Pengguna mengunggah foto bersama, kutipan inspiratif, dan pesan perdamaian.
Penelitian awal oleh Universitas Gadjah Mada menemukan korelasi positif antara penggunaan hashtag tersebut dan penurunan ujaran kebencian.
Secara global, umat Muslim di 15 negara melaporkan peningkatan aktivitas sosial pada bulan Dzulqadah.
Organisasi internasional Islam (OII) menyatakan bulan ini sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Dengan menitikberatkan pada nilai damai, Dzulqadah diharapkan menjadi contoh bagi dunia yang gemar bertikai.
Hingga kini, kondisi keamanan di kota‑kota besar tetap stabil, dan semangat kebersamaan terus menguat menjelang Ramadan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan