Media Kampung – 16 April 2026 | Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kampus harus berperan sebagai pusat dakwah inklusif dan peradaban yang berkemajuan, sekaligus menjadi medan strategis penyebaran nilai Islam yang menerangi dan memajukan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan pada acara Syawalan dan Pengukuhan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada yang berlangsung pada Selasa, 15 April 2026, di ruang Bulaksumur, University Club Hotel UGM.
Nashir menekankan bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki posisi strategis untuk memperluas jangkauan syiar Islam yang tidak sekadar ritual, melainkan gerakan pembaruan sosial dan intelektual.
Ia menambahkan bahwa pendekatan inklusif sejalan dengan prinsip Muhammadiyah yang menitikberatkan pada modernitas, kesejahteraan sosial, dan kebebasan berpendapat, sehingga mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang beretika.
Indonesia memiliki lebih dari empat ribu perguruan tinggi, menciptakan potensi luas bagi organisasi keagamaan untuk berinteraksi secara konstruktif dengan generasi muda.
Haedar Nashir mencatat bahwa Muhammadiyah saat ini mengelola lebih dari dua ratus unit universitas, namun jaringan tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi yang lebih intensif dan terstruktur.
Ia mengajak para pimpinan kampus untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum tanpa mengorbankan kebebasan akademik, sehingga pembelajaran tetap kritis dan berlandaskan moral.
Nashir juga menyoroti pentingnya menyalurkan penelitian dan inovasi dengan landasan etika Islam, guna menghasilkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Kampus harus menjadi pusat dakwah inklusif dan peradaban berkemajuan, tempat generasi muda belajar meneladani nilai-nilai universal dalam semangat kebangsaan,” ujarnya.
Acara tersebut sekaligus mengukuhkan para pemimpin baru Ranting Muhammadiyah di UGM, yang berkomitmen menerapkan visi dakwah inklusif di lingkungan akademik.
Haedar Nashir menekankan peran aktif organisasi mahasiswa Muhammadiyah dalam menjembatani kebutuhan masyarakat dengan sumber daya akademik, memperkuat sinergi sosial‑ekonomi.
Ia mengajak perguruan tinggi publik dan swasta untuk menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga Muhammadiyah, termasuk berbagi fasilitas, program beasiswa, dan proyek bersama.
Nashir memperingatkan bahwa mengabaikan peran kampus dalam dakwah dapat mengurangi peluang mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan luas dan berkeadaban.
Sebagai tindak lanjut, Muhammadiyah akan meluncurkan rangkaian lokakarya tentang dakwah inklusif di sejumlah kampus utama Jawa pada semester berikutnya.
Hingga kini, beberapa universitas telah menyatakan minat untuk berkolaborasi dalam pengembangan kurikulum, kegiatan pengabdian masyarakat, dan riset yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan