Media Kampung – 12 April 2026 | Jejak Kembali ke Cahaya mengisahkan perjalanan seorang mantan santri yang terjerumus dalam kebingungan hidup dan akhirnya menemukan jalan pulang melalui taubat.
Cerita pendek ini ditulis oleh Samudera Dwija dan dipublikasikan di situs resmi Nahdlatul Ulama pada akhir tahun 2023.
Tokoh utama, bernama Ahmad, sebelumnya menuntut ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur sebelum terpaksa meninggalkan lingkungan tersebut karena masalah pribadi.
Setelah keluar, ia terjerumus dalam pergaulan yang menjeratnya pada perilaku menyimpang, sehingga rasa bersalah terus menghantui setiap langkahnya.
Kehidupan kelam itu membuat Ahmad merasa terperosok dalam kegelapan spiritual, layaknya menapaki jejak yang tak kembali ke cahaya.
Pada suatu malam, ia mengalami mimpi yang menampilkan cahaya lembut memanggilnya kembali ke jalan yang benar, memicu keinginan kuat untuk berubah.
Bangkit dari mimpi itu, Ahmad memutuskan kembali ke pesantren tempat ia dulu belajar, meski harus menanggung stigma dan rasa malu.
Sesampainya di pesantren, ia disambut oleh kyai yang memberikan nasihat, \”Setiap orang berhak kembali ke cahaya asalkan ia bersedia menyesal dan bertobat,\” ujar sang kyai dalam dialog singkat.
Kyai tersebut menuntun Ahmad melalui serangkaian kegiatan ibadah, tazkirah, dan pengajian yang dirancang untuk membersihkan hati dari dosa.
Proses taubat yang dijalani Ahmad tidak hanya bersifat ritual, melainkan melibatkan introspeksi mendalam atas perbuatan masa lalu.
Ia menulis surat permohonan maaf kepada keluarga dan teman-teman yang pernah dirugikan, sebagai wujud tanggung jawab moral.
Selama periode rehabilitasi, Ahmad juga terlibat dalam program sosial pesantren, membantu menyusun program beasiswa bagi anak-anak kurang mampu.
Keterlibatan ini memperkuat rasa tujuan hidupnya, sekaligus menegaskan bahwa cahaya taubat dapat menjadi sumber perubahan sosial.
Cerita ini mendapat respons positif dari pembaca, dengan lebih dari 5.000 kunjungan halaman dalam dua minggu pertama setelah dipublikasikan.
Komentar pembaca menyoroti relevansi tema taubat dalam konteks modern, terutama di kalangan generasi muda yang mencari identitas spiritual.
Para kritikus sastra mencatat gaya penulisan Samudera Dwija yang lugas namun penuh simbolisme, menekankan kontras antara gelap dan cahaya.
Sebagai bagian dari koleksi cerpen NU, Jejak Kembali ke Cahaya juga dipertimbangkan untuk dimuat dalam antologi sastra religi yang akan diterbitkan pada akhir tahun 2024.
Saat ini, cerita tersebut masih tersedia secara daring di situs nu.or.id dan menjadi bahan diskusi di forum kajian literatur Islam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.














Tinggalkan Balasan