Media Kampung – Khutbah Jumat minggu ini menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi membaca di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan konsumsi informasi serba instan. Imam Ustaz Ahmad Sa’ad menyampaikan pesan tersebut pada Jumat, 19 April 2024, di Masjid Al‑Ikhlas, Surabaya.
Dalam era digital, arus informasi mengalir deras seperti air bah, menawarkan beragam konten dalam hitungan detik. Namun data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan penurunan persentase warga dewasa yang membaca buku secara mendalam sebesar 12% dalam lima tahun terakhir.
Ustaz menyoroti bahwa tradisi membaca Al‑Qur’an secara berulang telah menjadi fondasi spiritual umat, namun kebiasaan membaca literatur Islam lainnya semakin memudar. Ia menekankan bahwa kembali kepada kebiasaan membaca tidak hanya memperkuat keimanan, melainkan juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Sebagai contoh, program “Minggu Membaca Qur’an” yang diluncurkan oleh Dinas Kebudayaan Jawa Timur pada awal 2023 berhasil meningkatkan partisipasi jamaah sebanyak 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Program tersebut melibatkan pembacaan bersama, diskusi tafsir, dan penyediaan materi bacaan digital yang dapat diunduh.
Ustaz Ahmad Sa’ad mengutip kata‑kata Nabi Muhammad SAW, “Ilmu adalah cahaya bagi hati”, sebagai motivasi untuk memprioritaskan aktivitas membaca di sela kesibukan. Ia menambahkan bahwa setiap individu dapat memanfaatkan waktu menunggu sholat Jumat untuk membaca satu halaman kitab atau artikel keagamaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional pada Februari 2024 menemukan bahwa 64% responden mengaku lebih memilih video pendek daripada teks tertulis ketika mencari informasi agama. Fenomena ini mengindikasikan perlunya pendekatan kreatif dalam menyajikan materi bacaan agar lebih menarik bagi generasi milenial.
Sebagai respons, sejumlah masjid kini menyediakan pojok membaca yang dilengkapi dengan rak buku, tablet, dan akses internet gratis. Pengelola Masjid Al‑Ikhlas melaporkan peningkatan kunjungan ke pojok tersebut sebesar 22% sejak Januari 2024.
Selain itu, lembaga pendidikan Islam memperkenalkan kurikulum literasi digital yang menekankan kemampuan mencari, mengevaluasi, dan mengkritisi sumber informasi. Kurikulum tersebut diharapkan dapat menutup kesenjangan antara kebutuhan informasi cepat dan pemahaman mendalam.
Ustaz menegaskan bahwa tradisi membaca tidak harus bersaing dengan teknologi, melainkan dapat berintegrasi melalui e‑book, aplikasi audio‑book, dan platform podcast keagamaan. Dengan demikian, umat dapat menikmati kepraktisan digital tanpa mengorbankan kedalaman materi.
Data dari Perpustakaan Nasional RI mencatat peningkatan unduhan e‑book keagamaan sebanyak 35% pada kuartal pertama 2024 dibandingkan tahun 2023. Angka tersebut menunjukkan potensi besar untuk menggabungkan tradisi membaca dengan media digital.
Namun, Ustaz memperingatkan bahwa tidak semua konten digital bersifat otentik; ia mengajak jamaah untuk selalu memverifikasi sumber sebelum mengadopsi informasi. Kebiasaan ini diharapkan dapat menjaga integritas pengetahuan keagamaan di tengah arus informasi yang melimpah.
Menjelang akhir khotbah, Ustaz Ahmad Sa’ad mengajak seluruh jamaah untuk berkomitmen membaca setidaknya satu artikel keagamaan setiap hari, sebagai langkah kecil yang dapat mengembalikan semangat membaca dalam era serba instan. Komitmen tersebut akan dievaluasi pada pertemuan Jumat berikutnya, dengan harapan tercipta generasi yang lebih cerdas dan berakhlak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Leave a Reply