Media Kampung – Harlah Ke-76 Fatayat NU digelar di Aceh pada minggu ini, menandai komitmen organisasi perempuan NU dalam memperkuat peran perempuan berdaya di tengah pascabanjir. Acara tersebut menjadi momentum penting untuk menggalang dukungan sosial dan spiritual kepada korban banjir.
Rapat kerja diadakan pada 22 April 2026 di Masjid Al‑Hikmah, Banda Aceh, yang dihadiri oleh ketua cabang Fatayat NU Aceh, Siti Nurhaliza, serta perwakilan lembaga kemanusiaan setempat. Mereka membahas rencana aksi konkret, termasuk distribusi bantuan logistik dan program pemulihan ekonomi.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa banjir yang melanda tiga kabupaten pada awal April menimpa lebih dari 45.000 jiwa dan merusak ribuan rumah. Fatayat NU bertekad menjadi agen perubahan untuk mengurangi beban korban.
Siti Nurhaliza menyatakan, “Kami hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai pendamping yang memberdayakan perempuan agar dapat berperan aktif dalam proses pemulihan.” Pernyataan ini menegaskan fokus organisasi pada pemberdayaan jangka panjang.
Dalam sesi pelatihan, Fatayat NU mengajarkan keterampilan usaha mikro, seperti pembuatan kerajinan anyaman dan pengolahan hasil pertanian, kepada 150 perempuan korban. Program ini didukung oleh dana CSR PT Indofood yang sebesar Rp 2 miliar.
Para peserta pelatihan melaporkan peningkatan kepercayaan diri setelah berhasil memproduksi dan menjual produk pertama mereka di pasar lokal. Penjualan awal mencapai Rp 150 ribu per unit, memberikan harapan ekonomi baru.
Selain aspek ekonomi, Fatayat NU juga menyelenggarakan kegiatan psikososial, termasuk konseling grup yang dipandu oleh psikolog dari Universitas Syiah Kuala. Konseling ini dirancang untuk mengatasi trauma pascabanjir.
Hasil evaluasi awal menunjukkan penurunan tingkat stres pada 70 % peserta setelah dua sesi konseling. Hal ini memperkuat peran Fatayat NU sebagai lembaga yang peduli pada kesejahteraan mental.
Kerjasama lintas sektor juga terlihat ketika Dinas Sosial Aceh mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk program pemulihan jangka panjang, yang akan dipantau bersama Fatayat NU.
Fatayat NU menyiapkan jaringan relawan perempuan di setiap desa untuk menjadi koordinator bantuan, memastikan distribusi yang adil dan tepat sasaran. Model ini diharapkan dapat direplikasi di daerah rawan banjir lainnya.
Dalam konteks keagamaan, acara Harlah Ke-76 menekankan nilai gotong‑royong dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Islam. Fatayat NU mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam mengatasi musibah alam.
Sejumlah tokoh agama, termasuk KH Ahmad Zaini, menambahkan, “Keterlibatan perempuan dalam penanggulangan bencana mencerminkan keadilan sosial yang diajarkan Islam.” Dukungan ini memperkuat legitimasi program.
Program pemberdayaan ekonomi juga mencakup pelatihan penggunaan teknologi digital untuk pemasaran produk secara online, sehingga perempuan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Tim IT Fatayat NU bekerja sama dengan startup lokal menyediakan platform e‑commerce gratis selama enam bulan pertama, membantu meningkatkan penjualan produk kerajinan.
Penggunaan media sosial untuk promosi juga diajarkan, dengan target peningkatan penjualan sebesar 30 % dalam tiga bulan ke depan.
Secara logistik, Fatayat NU mendirikan posko bantuan di tiga titik strategis: Lhokseumawe, Langsa, dan Meulaboh, memudahkan distribusi kebutuhan pokok seperti beras, air bersih, dan obat‑obatan.
Posko tersebut dilengkapi dengan tim medis sukarela yang siap menangani kasus darurat, termasuk luka bakar dan diare akibat sanitasi yang terganggu.
Hasil pemetaan kebutuhan yang dilakukan oleh tim Fatayat NU menunjukkan bahwa 60 % korban membutuhkan bantuan pangan, sementara 25 % memerlukan dukungan psikologis.
Dengan data tersebut, program bantuan difokuskan pada prioritas utama, mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia.
Keberlanjutan program dipastikan melalui pembentukan koperasi perempuan yang dikelola oleh anggota Fatayat NU, dengan tujuan menciptakan pendapatan tetap bagi keluarga terdampak.
Koperasi ini akan mengelola hasil produksi kerajinan, pertanian, dan usaha kuliner, serta mengatur distribusi keuntungan secara adil.
Harlah Ke-76 menutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh imam setempat, memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh korban banjir serta kelancaran program pemberdayaan.
Keberhasilan inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana organisasi keagamaan dapat berperan aktif dalam penanggulangan bencana sekaligus memperkuat posisi perempuan berdaya di masyarakat Aceh.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan