Media Kampung – 17 April 2026 | Warga Pagar Alam dikejutkan ketika sejumlah kolam ikan tiba-tiba berubah menjadi merah pekat pada akhir pekan terakhir, menimbulkan pertanyaan serius tentang penyebab fenomena tersebut.

Insiden terjadi pada Sabtu, 13 April 2026, di tiga desa pinggiran kota, yaitu Lahat, Suka Makmur, dan Candi Merah, dimana warga melaporkan perubahan warna air setelah hujan deras semalam.

Tim investigasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pagar Alam tiba di lokasi pada pukul 07.00 WIB, melakukan pengambilan sampel air dan ikan untuk analisis laboratorium.

Hasil awal laboratorium menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi besi (Fe) sebesar 250 mg/L, jauh di atas ambang batas aman yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, yaitu 0,3 mg/L.

Selain besi, analisis juga mengidentifikasi keberadaan partikel oksida besi yang memberikan warna merah khas pada air kolam.

Dr. Ahmad Suharno, ahli kimia lingkungan di Universitas Sriwijaya, menjelaskan, “Kami menemukan konsentrasi besi tinggi di air, yang biasanya berasal dari erosi tanah kaya mineral atau limbah industri. “

Menurut Dr. Ahmad, erosi tanah di daerah hulu sungai Batang Merah meningkat setelah curah hujan ekstrem, menyebabkan material mineral terbawa ke aliran air dan akhirnya menggenangi kolam ikan.

Pemerintah Kabupaten Pagar Alam mengonfirmasi bahwa tidak ada pembuangan limbah industri ilegal di sekitar daerah tersebut selama enam bulan terakhir.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa wilayah Pagar Alam mengalami curah hujan 150% di atas rata-rata bulan April tahun ini.

Curah hujan tinggi meningkatkan aliran permukaan, mempercepat transportasi partikel mineral dari daerah pertanian ke sungai dan kolam.

Petani setempat mengakui penggunaan pupuk berbasis zat besi untuk meningkatkan kesuburan tanah, yang dapat berkontribusi pada peningkatan besi terlarut.

Data Dinas Pertanian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk besi di tiga desa tersebut naik 40% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain faktor alam, otoritas setempat mencatat adanya aktivitas penambangan pasir di hulu sungai Batang Merah selama dua minggu terakhir.

Penambangan pasir, yang melibatkan pengerukan tanah dan pencucian pasir, dapat melepaskan partikel besi ke dalam aliran air.

Tim Dinas Lingkungan Hidup mengirimkan laporan sementara kepada Kepala Daerah, menyarankan penutupan sementara penambangan dan evaluasi penggunaan pupuk.

Warga yang melaporkan perubahan warna air melaporkan kematian massal ikan dalam waktu tiga jam setelah perubahan warna terdeteksi.

Analisis laboratorium terhadap ikan mati menunjukkan keracunan besi akut, yang mengganggu sistem pernapasan dan metabolisme ikan.

Pemerintah Kabupaten menginstruksikan petani untuk menghentikan penggunaan pupuk besi selama tiga bulan ke depan dan beralih ke alternatif organik.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan program rehabilitasi kolam dengan penambahan filter pasir dan bahan kimia penetral besi.

Program tersebut dijadwalkan selesai pada akhir Mei 2026, dengan target pemulihan kualitas air ke standar aman.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Budi Santoso, menyatakan, “Kami berkomitmen mengembalikan kondisi ekosistem perairan dan melindungi mata pencaharian warga.

Ia menambahkan, “Koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Badan Pengawas Penambangan akan diperkuat untuk mencegah kejadian serupa.

Sejak kejadian, warga melaporkan penurunan intensitas warna merah di dua kolam, sementara kolam ketiga masih menunjukkan nuansa merah muda.

Pengamatan lanjutan pada 20 April 2026 mencatat penurunan konsentrasi besi menjadi 45 mg/L, menandakan perbaikan bertahap.

Para ahli menegaskan bahwa proses pemulihan ekosistem air membutuhkan waktu, terutama untuk mengembalikan populasi ikan secara alami.

Secara historis, daerah Pagar Alam pernah mengalami fenomena serupa pada 2018, ketika limpahan logam berat dari tambang timah menyebabkan perubahan warna air.

Pengalaman tersebut mendorong pemerintah daerah untuk memperketat regulasi lingkungan dan meningkatkan pemantauan kualitas air secara real time.

Hingga kini, tidak ada laporan korban manusia terkait kontaminasi air kolam, namun otoritas kesehatan setempat tetap memantau potensi dampak pada kesehatan masyarakat.

Warga diminta untuk tidak mengonsumsi ikan atau air kolam sampai hasil akhir pengujian dinyatakan aman.

Dengan langkah-langkah mitigasi yang diambil, diharapkan kolam ikan di Pagar Alam kembali normal dan tidak menimbulkan kepanikan warga di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.