Media Kampung – PWNU Aceh menuntut segera dibangunnya jembatan permanen di Beutong Ateuh lima bulan setelah banjir, guna memperlancar akses transportasi bagi warga setempat.

Banjir bandang yang melanda wilayah Beutong Ateuh pada November 2025 menghancurkan infrastruktur jalan, termasuk jembatan temporer yang dipasang darurat.

Setelah lima bulan penilaian, PWNU Aceh kembali mengeluarkan seruan agar pemerintah daerah menyelesaikan pembangunan jembatan permanen secepatnya.

Beutong Ateuh terletak di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di lintasan utama yang menghubungkan desa-desa pinggiran dengan pusat kota.

Kehilangan jembatan mengakibatkan waktu tempuh kendaraan meningkat dua kali lipat, menyulitkan distribusi barang kebutuhan pokok dan layanan medis.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyatakan telah menyiapkan studi kelayakan, namun proses perizinan masih memakan waktu.

Anggaran awal yang diajukan mencapai Rp 12 miliar, dengan sumber dana dari APBN serta kontribusi swasta lokal.

Masyarakat setempat berharap proyek dapat selesai sebelum musim hujan berikutnya, mengingat risiko kembali terulangnya bencana.

‘Kami tidak ingin warga terus hidup dalam ketidakpastian, jembatan permanen adalah kebutuhan mutlak,’ ujar Ketua PWNU Aceh, H. Abdullah Yusuf.

Wakil Bupati Aceh Besar, S. Hasan, menambahkan, ‘Pemerintah akan mempercepat proses tender dan memastikan kualitas konstruksi yang tahan lama.’

Pembangunan infrastruktur seperti jembatan ini menjadi bagian dari program rehabilitasi pascabanjir yang digencarkan pemerintah pusat untuk meningkatkan resilien wilayah rawan bencana.

Saat ini, tim teknis telah melakukan survei lapangan dan dijadwalkan mengumumkan pemenang kontraktor pada akhir Mei 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.