Media Kampung – Caca, siswi kelas tujuh Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember, berhasil membawa pulang medali perak dalam kejuaraan karate tingkat provinsi, menjadi penyumbang medali pertama bagi sekolah yang belum genap berusia satu tahun ini.
Delapan bulan lalu, Halimah Caraisa Humairoh, yang akrab disapa Caca, awalnya merasa kurang nyaman dengan sistem berasrama di Sekolah Rakyat. Namun, seiring waktu, ia mulai menikmati fasilitas lengkap dan pengalaman baru yang didapatkan, seperti penggunaan laptop pribadi, smartboard di kelas, serta makanan bergizi yang disediakan.
Perubahan besar terjadi saat Caca dikenalkan dengan olahraga karate oleh wali asrama, Bu Yulia. Sosok wali asrama ini menjadi inspirasi utama bagi Caca selama tinggal di asrama. Dari Bu Yulia, Caca juga mendapatkan semangat untuk bercita-cita menjadi guru, profesi yang dianggapnya sebagai pahlawan tanpa jasa.
Keikutsertaan Caca dalam kejuaraan karate tingkat provinsi adalah pengalaman pertamanya mengikuti lomba resmi. Hasilnya sangat membanggakan karena dia meraih juara kedua sekaligus memberikan medali pertama bagi Sekolah Rakyat Jember. Kepala sekolah, Kartika Sari Dewi, menjelaskan bahwa sekolah sengaja menghadirkan pelatih khusus dari luar agar siswa dapat mengembangkan bakatnya secara maksimal.
Keberhasilan Caca dan teman-temannya yang berhasil meraih satu medali emas dan empat perak dari kejuaraan karate tersebut memicu semangat siswa lain untuk berprestasi. Saat piala-piala tersebut diperlihatkan kepada siswa lain dalam upacara, motivasi untuk mengikuti jejak prestasi pun meningkat.
Tidak hanya di bidang karate, Sekolah Rakyat Jember juga mulai mencatatkan prestasi di bidang tari tradisional dan bridge. Sekolah ini bahkan menyiapkan atlet panahan dan mendukung siswa mengikuti berbagai kompetisi lainnya. Caca sendiri tengah dipersiapkan untuk mengikuti Jambore Nasional Pramuka yang akan digelar pada Agustus nanti.
Sistem pendampingan asrama di Sekolah Rakyat Jember berbeda dengan sekolah reguler. Selain wali kelas, ada wali asrama dan wali asuh yang membimbing maksimal 10 siswa, berperan menggantikan orang tua selama mereka tinggal di asrama. Wali asuh menjadi tempat bagi siswa berkeluh kesah sekaligus pendamping dalam mengembangkan kemandirian.
Bagi Caca, bukan hanya fasilitas dan prestasi yang berubah selama di Sekolah Rakyat, tapi yang paling penting adalah keberanian untuk bermimpi lebih tinggi. Kini, ia bercita-cita menjadi guru sebagai bentuk dedikasi dan inspirasi yang diterimanya selama ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan