Media Kampung – Program Sekolah Rakyat di Jember mulai menunjukkan hasil positif sejak beroperasi pada Agustus 2025, terutama dalam meningkatkan kedisiplinan dan kemandirian siswa yang awalnya kurang betah tinggal di asrama. Kepala Sekolah Kartika Sari Dewi menjelaskan, tantangan utama awalnya adalah membiasakan siswa menjalani rutinitas harian yang teratur di lingkungan asrama.

Mayoritas siswa berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu dengan kebiasaan hidup yang sangat beragam. Pada bulan-bulan pertama, pihak sekolah fokus mengajarkan pola hidup disiplin secara bertahap, mulai dari salat berjamaah, salat duha, hingga salat tahajud. Perubahan signifikan terlihat pada ketepatan waktu makan dan tanggung jawab siswa terhadap barang pribadi mereka.

Kartika menyoroti khususnya perubahan pada anak-anak sekolah dasar yang sebelumnya sangat bergantung pada pendamping. “Membuat anak usia 6 hingga 7 tahun menjadi mandiri adalah tantangan besar, tapi sekarang sudah mulai terlihat kemajuan yang menggembirakan,” ujarnya dalam dialog di RRI Jember pada Mei 2026.

Selain kedisiplinan, aspek perilaku dan etika siswa juga mengalami kemajuan. Siswa kini menunjukkan sikap sopan santun yang lebih baik terhadap guru dan pengasuh, berbeda dari kondisi awal program yang masih kurang beradab.

Pendirian Sekolah Rakyat merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Sekolah ini menerapkan sistem asrama agar anak-anak tidak hanya mendapat pendidikan akademik, tetapi juga pembinaan karakter, keterampilan, pemenuhan gizi, dan layanan kesehatan secara menyeluruh.

Sejak mulai menerima siswa dari keluarga desil 1 dan 2, termasuk mereka yang sempat putus sekolah, sekolah ini menghadapi perbedaan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Oleh karena itu, program pendampingan khusus disiapkan bagi siswa yang masih kesulitan dalam literasi dan numerasi dan menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

Dari aspek kesehatan, kondisi siswa juga membaik. Kasus penyakit yang dulu sering muncul akibat daya tahan tubuh rendah mulai menurun berkat pendampingan kesehatan dan pemenuhan gizi yang terpadu. Sekolah juga menyediakan layanan kesehatan dan pendampingan BPJS bagi siswa, meski masih ada kendala tunggakan iuran yang tengah diupayakan penyelesaiannya bersama Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jember, Moh Irfan Pratama, menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Dinas Sosial berperan dalam pendataan, verifikasi, dan pendampingan sosial, termasuk menugaskan pendamping rehabilitasi sosial sebagai wali asuh dan pengasuh dalam asrama. Ia menilai Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis memutus siklus kemiskinan yang turun temurun melalui pendekatan pendidikan dan rehabilitasi sosial.

Perubahan yang dialami anak-anak sejak masuk program ini cukup signifikan. Dari yang awalnya banyak yang tidak betah dan ingin pulang, kini sebagian besar justru merasa nyaman dan memilih tetap tinggal di asrama. Hal ini menjadi indikator keberhasilan pembentukan kedisiplinan dan kemandirian yang diharapkan dari Sekolah Rakyat Jember.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.