Media KampungJembatan Tètèh di Bondowoso yang menghubungkan Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso, tengah diperbaiki menjadi jembatan gantung permanen. Proyek ini merupakan bagian dari Program Jembatan Garuda Perintis yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Darat bersama Kodim 0822 Bondowoso.

Perbaikan jembatan yang telah berlangsung sekitar satu bulan ini melibatkan personel TNI dan tenaga kerja, serta dukungan gotong royong dari warga setempat, terutama saat musim libur. Jembatan kayu yang dikenal dengan nama Jembatan Tètèh, yang berarti “meniti” dalam bahasa Madura, memiliki peran vital sebagai jalur utama bagi warga untuk menuju pusat Kota Bondowoso dengan waktu tempuh lebih singkat.

Keberadaan jembatan tersebut mendukung aktivitas perdagangan dan pertanian di sekitar, serta menjadi jalur bagi anak-anak untuk berangkat ke sekolah dan mengaji. Kepala Desa Sukowiryo, Beni Meilandika, menegaskan pentingnya jembatan ini bagi perekonomian dan pendidikan masyarakat sekitar, khususnya setelah amblesnya jembatan provinsi penghubung Jember-Bondowoso pada akhir Februari 2026 yang menyebabkan peningkatan arus kendaraan di Jembatan Tètèh.

“Terima kasih kepada Pak Presiden dan TNI, saya mewakili warga Sukowiryo,” ujar Beni.

Seorang warga Desa Sukowiryo, Sadrumo (61), memperkirakan jembatan tersebut sudah ada sejak era 1880-an. Awalnya, posisi jembatan berada di sisi utara lokasi saat ini dan beberapa kali dipindahkan karena terbawa arus sungai. Ia juga menceritakan bahwa jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu ini sempat memakan korban, terutama saat musim hujan karena kondisi licin dan minim pengaman.

Pengalaman pahit pernah dialami Sadrumo ketika menemukan jenazah seorang penjual pisang yang diduga terjatuh dari jembatan sekitar empat tahun lalu. Meski demikian, warga setempat tetap mempertahankan jembatan dengan cara swadaya membeli kayu dan bahan bangunan agar jembatan tetap bisa dilalui.

Sadrumo bahkan ikut menyumbangkan pohon kayu jenis nyamplong miliknya untuk perbaikan jembatan. Kini warga menyambut baik pembangunan jembatan permanen yang akan dibuat lebih lebar sehingga memungkinkan kendaraan roda dua melintas berpapasan. Sebelumya, hanya satu sepeda yang dapat lewat dan harus bergantian.

Komandan Kodim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Prawito, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari Program Jembatan Garuda Perintis yang diinisiasi pemerintah pusat dan dikerjakan oleh TNI AD. Kodim 0822 saat ini membangun empat jembatan di wilayah Bondowoso sejak 30 Maret 2026 dengan target penyelesaian antara 1,5 hingga 2 bulan.

Selain Jembatan Tètèh sepanjang 45 meter yang menghubungkan Desa Sukowiryo dan Desa Kejawan, pembangunan juga dilakukan di Desa Sumbersalak sepanjang 35 meter, Desa Gayam Kecamatan Botolinggo sepanjang 30 meter, serta Desa Gadingsari Kecamatan Pakem yang menghubungkan Bondowoso dan Situbondo.

Perbaikan Jembatan Tètèh menjadi jembatan gantung permanen ini diharapkan dapat memberikan akses lebih aman dan nyaman bagi masyarakat, sekaligus menunjang kegiatan ekonomi dan pendidikan di wilayah sekitar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.