Media Kampung – Fenomena politik anchoring bias—kecenderungan bergantung pada informasi pertama yang diterima—kini menjadi strategi sadar untuk mengendalikan persepsi publik. Pengamat politik dari Lab45, Haryadi, mengungkapkan bahwa dalam politik modern, bias ini sengaja dibangun untuk memengaruhi arah perdebatan publik.

Menurut Haryadi, siapa yang pertama kali menanamkan narasi di benak masyarakat, baik melalui media sosial atau pidato politik, berpotensi mengendalikan diskusi selanjutnya. Narasi awal bertindak sebagai jangkar yang membatasi ruang berpikir kritis, sehingga informasi baru dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan narasi tersebut, bukan kebenaran objektif.

Empat Tahap Penyebaran Anchoring Bias

Perkembangan teknologi digital mempercepat praktik ini. Haryadi menjelaskan setidaknya ada empat tahapan yang terjadi. Pertama, fabrikasi narasi awal: ketika isu sensitif muncul, aktor politik segera meluncurkan klaim emosional atau ekstrem sebelum fakta lengkap tersedia.

Tahap kedua adalah amplifikasi algoritma. Narasi yang memicu keterlibatan tinggi didorong algoritma media sosial untuk menjangkau audiens luas secara masif. Ketiga, fenomena echo chamber memperkuat narasi tersebut, di mana kelompok tertentu mengadopsinya sebagai kebenaran mutlak.

Tahap terakhir adalah penolakan terhadap koreksi. Ketika media atau lembaga resmi menyajikan data akurat, sebagian masyarakat justru menolak karena terikat pada persepsi awal yang lebih dulu tertanam.

Dominasi Emosi dan Post-Truth

Politik anchoring bias ditandai dengan menguatnya fenomena post-truth, di mana emosi lebih berpengaruh daripada fakta. Narasi awal dirancang untuk membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau kebanggaan kelompok, sehingga perdebatan bergeser dari substansi menjadi pertarungan persepsi.

Ciri lainnya adalah sulitnya mengubah opini publik meski bukti baru telah tersedia. Peran influencer politik juga semakin dominan karena mampu menyebarkan informasi lebih cepat dibanding verifikasi jurnalistik.

Langkah Struktural Mengurangi Dampak

Untuk mengurangi dampak anchoring bias, Haryadi menekankan pendekatan struktural, bukan hanya edukatif. Strategi prebunking—membangun daya tahan kognitif sebelum disinformasi menyebar—dinilai lebih efektif daripada klarifikasi setelah hoaks dipercaya.

Pemerintah juga perlu mendorong akuntabilitas algoritma platform digital, memberi ruang bagi narasi penyeimbang, dan memperlambat penyebaran konten yang memicu bias ekstrem. Pelembagaan dialog publik berbasis data serta pembaruan kurikulum literasi digital—mencakup pemahaman bias kognitif—juga dianggap penting.

Haryadi menegaskan bahwa kualitas demokrasi di era digital bergantung pada kemampuan negara, media, dan masyarakat untuk terus mengoreksi jangkar berpikir yang keliru. “Pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang mempertahankan narasi lama, melainkan yang berani mengubah arah ketika fakta menunjukkan kenyataan berbeda,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.