Media Kampung – Konten kreator dan pegiat konservasi satwa liar, Panji Petualang, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Lombok setelah rencana kunjungannya ke Gunung Rinjani bersama Agam Rinjani menuai penolakan. Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada akhir Juni 2026.
Panji mengaku tidak menyadari adanya sensitivitas budaya terkait penggunaan istilah “Pawang Rinjani” dalam unggahannya. Ia juga mengakui tidak mengetahui persoalan lama yang melibatkan Agam Rinjani dengan sejumlah relawan dan komunitas di kawasan Rinjani.
“Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan ku,” tulis Panji dalam unggahannya.
Kronologi Penolakan
Rencana kedatangan Agam Rinjani dan Panji Petualang ke Gunung Rinjani bertujuan untuk mengenang satu tahun proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang meninggal setelah jatuh ke jurang pada Juni 2025. Namun, Forum Wisata Lingkar Rinjani secara tegas menyatakan keberatan.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengungkapkan bahwa penolakan didasari oleh isu pengelolaan dana donasi pasca-evakuasi Juliana yang dinilai belum transparan. “Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas,” ujar Royal.
Profil Panji Petualang
Panji Petualang dikenal luas sebagai konten kreator dan edukator satwa liar, khususnya reptil seperti ular. Ia memiliki jutaan pengikut di media sosial dan kerap membuat konten edukasi tentang penanganan satwa liar. Namanya melambung berkat keahliannya dalam menangani berbagai jenis reptil.
Meski demikian, kontroversi kali ini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap nilai budaya dan adat setempat dalam pembuatan konten publik. Panji mengaku bahwa ide membuat konten muncul setelah bertemu Agam di Jakarta dan membahas momen satu tahun penyelamatan Juliana Marins.
“Saya tidak mengetahui adanya persoalan lama antara Agam dengan sejumlah relawan dan komunitas di kawasan Rinjani. Saya juga salah karena menyematkan istilah ‘Pawang Gunung Rinjani’ dalam unggahan,” jelasnya.
Hingga saat ini, polemik antara Agam Rinjani dengan masyarakat adat dan pelaku wisata di lingkar Gunung Rinjani masih terus bergulir. Panji berharap permohonan maafnya dapat diterima dan menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghormati kearifan lokal.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan