Media Kampung – Bencana alam tidak selalu murni disebabkan oleh faktor alam. Aktivitas manusia juga dapat memperbesar risiko terjadinya bencana, terutama banjir dan longsor. Hal ini disampaikan oleh Dr. Heni Masruroh, M.Sc., dosen Geografi Universitas Negeri Malang, dalam program Talkshow Tanggap Bencana pada Rabu, 24 Juni 2026.

Dalam talkshow bertema “Bumi Ngomong, Kita Dengerin Nggak? Geografi Membaca Isyarat Bencana”, Dr. Heni menjelaskan bahwa terdapat faktor antropogenik atau faktor yang berasal dari aktivitas manusia yang dapat memicu bencana. “Kalau banjir, longsor, erupsi, dan kekeringan, ada faktor manusia yang turut berperan di situ. Dalam kebencanaan, itu disebut faktor antropogenis,” jelasnya.

Ia mencontohkan kasus longsor yang terjadi akibat perubahan struktur lereng oleh aktivitas manusia. Lereng yang awalnya stabil dapat menjadi rawan longsor ketika bagian bawahnya dipotong atau dikikis untuk pembangunan tertentu. “Bayangkan ada lereng yang aman-aman saja, kemudian bagian bawahnya dipotong. Lereng yang awalnya stabil menjadi tidak stabil. Ketika hujan deras datang, longsor bisa terjadi,” ungkapnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dan lingkungan sangat erat. Pengelolaan ruang yang tidak memperhatikan kondisi geografis dapat meningkatkan kerentanan terhadap bencana. Oleh karena itu, Dr. Heni mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan lingkungan. Menurutnya, pembangunan harus tetap memperhatikan keseimbangan alam agar risiko bencana tidak semakin besar di masa depan.

Melalui edukasi seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga melalui pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.