Media Kampung – Banjir rendam tiga gampong di Aceh Barat Daya menimbulkan genangan air setinggi 20–30 cm, memaksa warga mengungsi sementara dan memicu seruan kesiapsiagaan dari GP Ansor.
Gampong-gampong yang terdampak adalah Keude Kuta, Gampong Lampase, dan Gampong Seuneubok, yang terletak di kecamatan Lembah Seulawah; kejadian terjadi pada sore hari tanggal 24 April 2026 setelah hujan lebat selama tiga hari berturut‑turut.
Genangan air menutupi jalur utama, mempersulit transportasi, serta merusak atap rumah tradisional dan lahan pertanian padi yang baru ditanam.
GP Ansor menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga, dengan Ketua Cabang GP Ansor Aceh Barat Daya, KH. Abdul Rahman, menyatakan, “Kami siap membantu pemerintah dalam penanganan darurat dan mengajak semua elemen masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi banjir selanjutnya.”
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya segera menurunkan pasir dan membuat tanggul darurat di beberapa titik rawan, serta menyiapkan posko pengungsian di balai desa masing‑masing gampong.
BPBD setempat mengirimkan tim penyelamat, memeriksa kondisi infrastruktur, dan mengkoordinasikan distribusi bantuan makanan serta perlengkapan kebersihan kepada keluarga yang terdampak.
Warga setempat bergotong‑royong mengeringkan jalan dengan sekop dan ember, sementara relawan GP Ansor membantu menyalurkan bantuan logistik ke posko pengungsian.
Aceh secara historis rentan terhadap banjir karena topografi pegunungan dan curah hujan tinggi, terutama pada musim penghujan yang biasanya dimulai pada bulan April.
Data meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan intensitas hujan mencapai 150 mm per hari di wilayah tersebut selama tiga hari terakhir, memperparah potensi banjir.
Pakarlah para ahli mengingatkan pentingnya pembuatan saluran drainase yang memadai, penanaman vegetasi penahan air, serta sistem peringatan dini berbasis teknologi untuk mengurangi dampak banjir di masa mendatang.
Gubernur Aceh Barat Daya, Irwan Syahputra, menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mempercepat rehabilitasi jalan rusak dan meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana daerah.
Hingga saat ini, tingkat air mulai menurun menjadi 10 cm di titik tertinggi, namun kerusakan pada rumah dan lahan pertanian masih memerlukan penilaian lanjutan dan bantuan pemulihan.
Pihak berwenang mengimbau semua warga tetap waspada, mematuhi arahan petugas, dan melaporkan situasi darurat untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan