Media Kampung – Cakupan imunisasi dasar lengkap di Banda Aceh masih menjadi tantangan serius dengan angka baru mencapai 34 persen pada tahun 2025. Pemerintah kota pun mengambil langkah aktif memperkuat pendekatan jemput bola guna meningkatkan akses dan cakupan vaksinasi anak-anak di wilayah tersebut.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengungkapkan dalam acara Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing ‘Mengejar Anak Zero Dose’ pada 22 Mei 2026 bahwa mayoritas anak-anak masih belum mendapat perlindungan imunisasi dasar. Berdasarkan data, sebanyak 63 persen anak di Banda Aceh berstatus zero dose, yang berarti belum menerima vaksin dasar lengkap.
Situasi ini dinilai berisiko tinggi karena dapat memperbesar kemungkinan penyebaran penyakit menular di masyarakat. Kota Banda Aceh sendiri menghadapi lonjakan kasus campak sebanyak 119 dan munculnya batuk rejan atau pertusis. Selain itu, angka tuberkulosis juga mencatat lebih dari 1.600 kasus selama periode terakhir.
Pemerintah setempat terus memperkuat layanan kesehatan primer melalui Puskesmas dan Posyandu agar imunisasi lebih mudah dijangkau masyarakat. Pendataan dilakukan secara rinci hingga tingkat gampong dengan metode ‘by name by address’ agar tidak ada anak yang terlewat dari program imunisasi.
Illiza menambahkan, strategi door-to-door yang melibatkan kader Posyandu dan petugas kesehatan menjadi salah satu cara menjangkau keluarga yang belum mendapatkan informasi lengkap tentang manfaat vaksinasi. Pendekatan ini bukan hanya untuk mengatasi penolakan, tetapi juga untuk memberikan edukasi yang memadai kepada masyarakat.
Selain upaya pemerintah kota, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menegaskan bahwa Aceh akan dijadikan contoh kebangkitan imunisasi nasional dari wilayah barat Indonesia. Aceh diharapkan menjadi model peningkatan cakupan vaksinasi yang rendah saat ini dan menjadi acuan bagi daerah lain di masa mendatang.
Langkah bersama antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan mampu mengubah tren cakupan imunisasi di Banda Aceh menjadi lebih baik, sekaligus memperkuat perlindungan anak-anak terhadap penyakit menular berbahaya di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan